Belajar Agama Dengan Santai Emang Boleh? Ya Boleh Dong!

Belajar Agama Dengan Santai

Belajar Agama Dengan Santai – Zaman sekarang sudah berubah, Generasipun demikian. Aman mungkin kalau kita bahasakan generasi sekarang itu lebih nyantai daripada generasi sebelum ini. Tidak bisa disalahkan, karena semua fasilitas yang berkembang di dunia saat ini meniscayakan ke-santai-an para generasi muda.

Dahulu pemuda dengan gagah dan berani memamerkan keahlian pedangnya di muka umum. Kalau ada panggilan perang tanpa pikir panjang langsung digas, sebab kemenangan perang adalah tanda keperkasaan mereka. Sekarang? Wkwk, jawab sendiri lah.

Santainya generasi sekarang itu berefek pada bagaimana interaksi mereka dengan dunia dan kondisi sosial, termasuk juga di dalamnya bagaimana interaksi mereka dengan agama. Interaksi disini maksudnya segala macam hal, entah itu bagaimana penerimaan dan penyampaian mereka mengenai agama, atau bagaimana implementasi mereka terhadap hal-hal yang digaungkan agama.

Supaya pembahasan tidak terlalu melebar, (nanti kalian puyeng) kali ini kita hanya akan berbicara tentang bentuk penerimaan atau penyampaian seseorang terhadap agama. Kita akan mencoba menjawab satu pertanyaan menggelitik tapi begitu penting (setidaknya untuk saat ini) Boleh gak sih belajar agama dengan santai?

Belajar Agama Dengan Santay?

Kami katakan pertanyaan tadi begitu penting sebab melihat bagaimana bentuk penerimaan para pemuda sekarang. Banyak dari kalangan pemuda yang sudah bosan dengan cara-cara lama yang begitu saklek. Hal tersebut terlalu kaku untuk mereka konsumsi. Setuju gak sih?

Coba kita sandingkan kebosanan ini dengan agama. Berkaca pada masalah di atas bisa saja kita katakan bahwa pemuda sudah bosan dengan cara-cara lama yang begitu saklek. Mereka bosan dengan asupan dakwah yang terlalu kaku. Akibatnya banyak dari mereka yang masa bodo dengan dakwah itu sendiri. 

Dampak besarnya adalah syiar Islam terhambat karena dua hal yang bertolak belakang. Cara dakwah yang saklek, serta pemuda yang tidak mau mengikuti dakhwah kaku. Akhirnya mereka tidak tahu apapun mengenai apa yang seharusnya mereka tahu, AGAMANYA.

Memangnya Dakwah Kaku Gak Boleh?

Ya boleh-boleh aja, toh dalam beberapa kondisi juga diharuskan. Generasi dahulu jika kita tilik dari kacamata generasi sekarang itu saklek dan kaku. Tapi nyatanya sampai sekarang Islam berkembang. 

Bukannya tidak mungkin ulama sekarang paham mengenai Islam tanpa orang terdahulu paham tentang Islam? Kan orang dulu model dakwahnya kaku, setidaknya sebagian besar. (Abu Nawas golongan islam santuy soalnya) Jadi gak ada masalah dengan dakwah kaku. 

Maksud yang ingin kami sampaikan adalah terserah dakwah itu mau seperti apa. Yang penting substansi pemaparan pendakwah itu sampai kepada objek dakwah. Dulu mungkin masyarakatnya tidak masalah dengan penyampaian yang sangat kaku dan saklek, akhirnya mereka menerima. Tapi masalahnya sekarang, masyarakat, khususnya pemuda lebih antusias mendengar dakwah dengan penyampaian santai.

Belajar Agama Dengan Santai Adalah Solusi?

Bisa kita katakan demikian. Untuk menjangkau pasar yang luas, (maksudnya Jemaah ya bukan pasar dalam konteks ekonomi) sudah seharusnya dakwah itu menyesuaikan diri dengan zaman. Kondisi pemuda yang antusias dengan model santai seharusnya bisa diadopsi oleh para dai. 

Jadi pasar gak jenuh dan akan selalu ada permintaan untuk jasa yang ditawarkan. (sekali lagi guys ini analogi, bukan semata bicara ekonomi) Luasnya pasar dan banyaknya jasa yang diberikan bukankah akan berpengaruh signifikan terhadap penyebaran syiar Islam? Inikan substansi yang sama-sama kita inginkan?

Namun demikian, harus diingat bahwa candaan itu ada batasannya. Cara penyampaian santai bukan berarti menjadikan agama itu sebagai bahan gurauan. Yang dipertimbangkan dari model belajar agama dengan santai adalah aspek penyebar luasan syiar agama, bukan membuat masyarakat tertawa dalam balutan komedi agama. 

Rasulpun Terkadang Santuy, Jadi Apa Salahnya?

Gelora belajar agama dengan santai bukan hanya datang belakangan. Hal ini beberapa tokoh ulama terekam kerap menyampaikan syiar Islam dengan santuy. Sebut saja Ustad Abdul Somad. Rasulpun juga dalam catatan sejarah pernah mendakwahkan ajaran islam dengan cara yang nyantai, maksudnya sambil bercanda.

Salah satu riwayat menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah dimintai doa oleh seorang nenek tua agar dapat masuk suga. Perempuan tersebut berkata “Ya Rasulullah, Doakanlah aku agar agar kelak bisa masuk ke dalam surga” Rasulullah kemudian menjawab “Surga itu tertutup dan tidak boleh dimasuki oleh perempuan tua”

Nenek tersebut kemudian pergi menjauh dan menangis. Sambil menahan taawanya Rasulullah menyuruh seorang sahabatnya untuk menghampiri nenek tadi. Beliau mengatakan “Beritahu dia bahwa surga itu tidak akan dimasukinya dalam keadaan tua, sebab penghuni surga semuanya menjadi muda kembali”

Penutup

Begitulah Rasulullah Saw. Dalam beberapa kondisi ia menyampaikan risalah dengan cara yang santai. Riwayat di atas memberikan pesan bahwa ada kalanya Rasulullah tidak menyampaikan dakwah dengan cara yang keras. Ia tengah memberi tahu suatu doktrin Islam mengenai hari akhir bahwa kelak kita di surga gak bakalan tua, kalau meninggalnya tua ya bakalan dijadikan muda lagi.

Poin yang ingin kami sampaikan adalah gak salah kan belajar agama dengan santai? Sebab yang terpenting adalah bagaimana dakwah Islam terus berkembang. Toh dengan santainya penyaimpaian tidak akan merubah landasan Islam. Asal yang disampaikan itu benar dan ada dalilnya. 

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top