Belajar Dari Kisah Nabi Nuh, Menyerah Gak Seburuk Itu Kok

Belajar Dari Kisah Nabi Nuh, Menyerah Gak Seburuk Itu Kok. Kisah Menyerahnya Nabi Nuh, Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran. Gambar Kartun Bahtera Nabi Nuh

Islam SantuyKetika mimpimu, yang begitu indah, tak pernah terwujud.., ya sudah lah. Untuk kaum millennial dan gen Z, lagu Bondan & Fade2Black barusan gak asing sama sekali. Dulu sewaktu sekolah, dengerin lagu itu cuma buat asik-asik aja. Tapi seiring bertambahnya usia dan realita, dengerin lagi kok kayak berasa ya?

Kadang kita sudah susun bagus-bagus planning kehidupan. Besok bakalan gini-gini dan gini. Kita sudah jalanin bisnis dengan serius dan tekun, tapi kok profit gak datang-datang? Apa harus kita menyerah? Tapi kata orang menyerah itu bukan solusi. Bahkan ada pepatah yang bilang winners never quit, quitters never win.

Sekarang kita akan bahas masalah ini. Haruskah kita pantang menyerah di saat kita tidak menemui keuntungan terus menerus? Ragu untuk banting setir dari keadaan sekarang karena banyak yang bilang kalau mau sukses ya jangan menyerah.

Harusnya Belajar Dari Alquran Sebagai Pedoman Hidup

Keyakinan dalam Islam mengatakan bahwa Alquran pasti akan memberikan jawaban perihal masalah hidup. Tapi pertanyaannya, ayat Alquran mana yang memberikan solusi terkait kebimbangan menyerah atau tidak ini. Apakah kitab suci nyaranin perbuatan yang menurut banyak orang itu “buruk”?

Jawabannya iya. Hal ini dapat kita lihat dari rentetan ayat Alquran mengenai kisah nabi nuh. Seorang nabi yang telah berdakwah sangat lama namun tidak mendapat hasil memuaskan (ini kalau kita lihat kuantitasnya ya). Kemudian beliau menyerah dan meminta Allah untuk menghabisi para pendusta. Maka terjadilah banjir dan para pendusta tenggelam di dalamnya. 

Sedikit Kisah Nabi Nuh

Alquran mengisahkan bahwa Nuh mendakwahi kaumnya untuk waktu yang sangat lama. Memang tidak ada angka pasti dalam Alquran mengenai lamanya dakwah Nuh. Namun Ath-Thabari (ahli sejarah) menerangkan bahwa hal tersebut terjadi selama 9.5 abad.

9.5 Abad gaes, 950 tahun! Di waktu yang panjang itu, tidak ada satupun yang mengimani perkataan beliau kecuali hanya sedikit. Alih-alih mendapat pengikut banyak, seruan kebaikan oleh Nuh mendapat balasan yang nyakit. Cibiran, cemoohan, bahkan ancaman datang silih berganti kepadanya, bahkan dari salah satu anaknya.

Kisah Nabi Nuh Mengadu Kepada Allah

Melihat realita itu, nabi Nuh lantas mengadu kepada Allah. Aduannya ini terekam dalam Qs. Nuh. Kalian buka sendiri ya Alqurannya, kalau kita taro di sini nanti kedetek plagiarsm. 

Intinya nabi Nuh mengadu bahwa ia telah mendakwahkan kaumnya siang dan malam, dengan cara tertutup maupun terang-terangan. Tapi kaumnya menolak bahkan disertai gimik.

Mereka tutup telinga mereka dengan jari agar seolah tak mendengar. Mereka tutup muka mereka dengan baju agar seolah tak memperhatikan. 

Nuh telah menyeru kaumnya agar bertauhid. Sembahlah Allah, bertakwalah kalian kepada-Nya dan taatlah kepadaku. Namun tidak ada dampak seruannya itu terhadap keimanan mereka.

Bahkan mereka membalikkan seruan tauhid nabi Nuh dengan seruan dakwah mereka lagi. Mereka bersikeras menyuruh Nuh dan mereka yang telah beriman agar tidak meninggalkan tuhan-tuhan yang biasanya mereka sembah, Wadd Suwa, Yauq dan Nasr. 

Kisah Nabi Nuh Yang Menyerah Menghadapi Realita

Menghadapi realita yang demikian. Maka nabi Nuh pasrah dan menyerahkan kepada Allah. Ia meminta agar mereka yang berdusta binasa di muka bumi ini. Sebab mereka bukan hanya tidak menerima seruan tauhid, namun juga menebar kezhaliman dengan seruan kembali kepada tuhan-tuhan yang kerap mereka sembah.

Akhirnya Allah menerima aduan Nuh dan mengabulkan permintaannya. Maka kemudian terjadilah banjir bandang yang menenggelamkan para pendusta ajaran tauhid.

Nuh dan pengikutnya selamat berkat bahtera. Akhirnya tidak ada yang menghalangi nabi Nuh untuk berdakwah lagi, dan tidak ada seruan lain selain seruan tauhid.

Belajar Menyerah Dari Kisah Nabi Nuh 

Berkaca pada kisa di atas, menyerah bukanlah suatu hal yang dapat kita katakan mutlak sebagai keburukan. Jika memang seluruh daya dan upaya telah kita kerahkan namun hasilnya nihil, mungkin menyerah adalah salah satu opsi yang dapat kita ambil.

Menggali Lebih Dalam Konsep Menyerahnya Nabi Nuh

Menyerah sesuai dengan kisah nabi nuh bukanlah menyerah lantas meninggalkan tujuan begitu saja. Bahasa mudahnya, kita tahu kapan harus kita menyerah dan beralih kepada sesuatu yang lebih menghasilkan tanpa meninggalkan tujuan. Coba lihat kisah nabi nuh tadi dengan baik-baik.

Menyerahnya Nuh kepada kaumnya bukan berarti nuh meninggalkan dakwah begitu saja. Sebab tujuan beliau adalah menyerukan tauhid. Ia hanya menyerah kepada lahan seruannya (umat-umat tadi), bukan menyerah terhadap seruannya (seruan tauhid). Paham kan ya?

Setelah para pendusta tenggelam di dalam banjir, tidak ada lagi penghalang dakwah nabi Nuh. Anak-anak yang lahir tidak akan mendapat doktrin ketuhanan lain selain daripada tauhid. Bayangkan saja jika nabi Nuh tidak menyerah dan kekeh menghadapi para pendusta tadi. Semakin banyak pendusta lain yang bermunculan seiring dengan lahirnya anak mereka. Dan bukan tidak mungkin Orang yang sudah beriman balik lagi ke keyakinan mereka dahulu.

Menyerah Bukan Hal Yang Buruk Kok

Kisah nabi nuh di atas mengajarkan kita banyak hal, termasuk tahu kapan harus berhenti. Kalau kita rasa kenapa gak dapat closingan padahal sudah berusaha giat dan suntik modal terus-terusan, jangan langsung menyerah. Coba perbaiki dulu strateginya. 

Perbaiki strateginya sebagaimana Nuh mengubah strategi dakwah tertutup menjadi dakwah terbuka. Ubah strategi penjualan (misalnya kamu berbisnis) dari model offline ke online. Perbaiki pula kekurangan-kekurangan lain dari lahan pendapatmu itu.

Namun jika memang belum saja mendapat hasil oke, mungkin lahan rejeki bukan di situ. Menyerahlah dengan lahan itu, banting setir. Cari opsi baru yang sekiranya menguntungkan. Tentu dengan penerapan strategi baru.

Menyerah itu gak buruk kok. Cuma persepsi kebanyakan orang aja yang membuat kita berfikiran demikian. Sekali lagi, menyerah di sini bukan meninggalkan tujuan begitu saja, namun lebih kepada beralih ke lain tempat untuk menggapai tujuan yang satu.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top