Dari Dalil Menjadi Ibadah Tradisi

dari dalil menjadi ibadah tradisi

Islam SantuyRamadhan telah tiba. Walau kadang warteg dan minimarket tetap buka seperti sedia kala, sebagai muslim yang taat tentu wajib bagi kita untuk sedikit melupakan mereka. Mau bagaimana lagi, yang demikian ini perintah agama.

Berbicara mengenai kewajiban puasa, pada sadar gak sih di waktu kecil orang tua (atau guru ngaji) cuma nyuruh puasa tanpa ngasih tau kenapa kita harus berpuasa. Jadi kita ya puasa aja begitu tanpa tahu alasan ngelakuinnya. Gak salah memang, mungkin kala itu otak kita gak mampu nerima yang berat-berat. Jadi yang disampaikan kewajibannya aja, bukan dalil atau sekelumit masalah lainnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, kritisisme di otak demikian meronta-ronta, pertanyaan-pertanyaan pun muncul. Misalnya, apa saya berpuasa hanya karena ngikut-ngikut orang?

Ibadah Tradisi

Pertanyaan barusan saya rasa relevan, karena Islam (setidaknya dalam hukum peribadahan) bukan agama yang terbentuk atas dasar budaya, tapi perintah ilahi yang termanifestasi dalam bentuk dalil. Oleh karenanya, wajib bagi kita mengetahui dalil kala melakukan peribadahan.

Tapi kenyataannya, banyak orang sekarang ya ibadah-ibadah aja. Ketika orang banyak ngelakuin sesuatu dengan embel-embel islami ya mereka ikutan ngelakuin. Gak tau mereka apa itu emang benar diperintahkan atau tidak. Ketika pola seperti ini terus berlanjut, pada akhirnya ‘ibadah tradisi’ muncul dan mendapat ajang normalisasinya sendiri. Buat apa mencari dalil? Inikan udah dilakuin banyak orang.

Dari Dalil Menjadi Ibadah Tradisi

Saya di sini bukan mau menjudge orang yang tidak tahu-menahu tentang dalil dan hanya melakukan ibadah karena ikut-ikutan. Toh ‘ibadah tradisi’ yang ada saat ini pada kenyataannya adalah buah artikulasi dalil islami. Kalau saya boleh contohkan singkat, kira-kira pola ‘ibadah tradisi’ terbentuk seperti penjelasan di bawah ini.

Jadi para ulama mempelajari hukum Islam dari Alquran, Hadist dan Ijma’. Mereka bagi ilmunya untuk masyarakat. Tapi tidak semua masyarakat siap untuk menerima ruwetnya cara menyimpulkan hukum berdasarkan narasi dalil. Jadinya masyarakat hanya diberitahu produk hukum saja. Misalnya, puasa itu wajib di bulan Ramadhan dari terbit matahari sampai terbenam. Sholat wajib 5 waktu, dan lain sebagainya.

Atas dasar itu, akhirnya masyarakat hanya tahu hukum saja tanpa tahu landasannya apa. Hukum kemudian dipraktekkan secara meluas. Orang yang melihat kemudian ikut-ikutan. Dan begitulah seterusnya.

Dalil

Memang tidak bisa serta merta kita katakan ‘ibadah tradisi’ secara mutlak adalah suatu hal yang salah. Tapi masa iya, dalil yang menjadi dasar agama terlupakan begitu saja karena sudah menjadi ‘ibadah tradisi’?

Ketakutan karena masyarakat yang susah untuk mahamin dalil seharusnya ditinggalkan. Maksud saya dibuka secara gamblang aja begitu proses pengambilan hukumnya seperti apa. Masyarakat toh ya makin lama kelaamaan makin cerdas.

Kalau memang mereka selama ini sudah diajarkan dan belum bisa paham, berarti ada cara yang salah dari moda penyampaiannya. Mereka gak bisa bahasa Arab? Sampaikan setelah teks arab itu terjemahannya. Mereka tidak bisa mahamin logika cara menggapai hukum? Deskripsikan runtutannya dengan jelas. Mereka tidak bisa mahamin bahasa yang terlalu berat? Ubah diksi berat menjadi diksi santai yang mudah dipahami.

Di lain sisi, kita sebagai orang awam juga seharusnya mau dan punya keinginan untuk mencari tahu. Di era informasi saat ini, kiranya bukan menjadi hal yang sulit menggapai apa saja yang kita inginkan, apalagi jika hanya bertanya apa hukum dan dalil. Banyak media digital yang sudah menyediakan. Tinggal kitanya saja mau atau tidak.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Nur Muhammad Basri
Suka banget kata-kata "FORTIS FORTUNA ADIUVAT"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top