Dari Santri Untuk Bangsa, Sebuah Kumpulan Puisi

Aku Ingin Menjadi Santri

Aku ingin menjadi santri, yang hidup di kampung bernama kesederhanaan, yang jauh dari bising lalu lalang metropolitan
Aku ingin menjadi santri, yang mengedepankan kejujuran, mencintai kebersihan, sebab aku adalah perantau yang mencari jati diri, di sebuah penjara suci yang menampung mutiara- mutia ilahi
Aku ingin menjadi santri, sopan dalam bertutur sapa, sebab kutahu, menjadi intan permata harus santun beretika
Aku ingin menjadi santri, tolong menolong kepada sesama, menjaga alam agar selalu terjaga

Aku ingin menjadi santri, tunduk takzim kepada kiai dan para guru, rajin mendoakan ayah- ibu, sebab kutahu, untuk mengecap dekap harap, doa-doa harus tiada henti kupanjat
Aku ingin menjadi santri, yang sibuk mencari barokah, lewat istiqomah zikir dan ibadah, agar hati tak tumbuh semak belukar, tak lagi sesak oleh dosa berduri liar
Aku ingin menjadi santri, yang gemar mengaji dan belajar, tabah-tawakal merawat sabar, sebab aku suka sekali bertanam, yang ladangnya hati dibajak dalam diam
Aku ingin menjadi santri, yang suka mengabdi pada kiai, memetik berkah sang murobbi, sebab segala yang bernama barokah, harus mengasah resah agar tidak rekah
Aku ingin menjadi santri, yang cinta tanah air ini, yang cinta NKRI harga mati, seperti puisi kepada sunyi, mencintai sampai abadi

Menunggu Jumat Ibu

Kamis malam;
di kamar yang penuh harum rindu
sambil sumringah malam kutunggu cepat berlalu bahkan mataku sulit mengatup kadang
tak sabar esok pandangi wajah rindang

Malam semakin larut di dada
rasanya kerinduan makin mempesona ingin kupanggil pagi lekas datang
biar aroma pertemuan makin semerbak kembang

Jumat pagi segera kubasuh diri
menghilangkan sunyi, melahap habis luka yang nyeri Tak akan kubiarkan engkau temui cemas saat menatapku kujaga hatimu dengan puisi sepanjang waktu

Sambil menunggu namaku dipanggil segera kubenahi resah yang menggigil
Sebelum menemuimu, diam-diam kususun kata-kata mengatur detak jantung dan doa secara bersama

Itulah yang kusenangi tiap Jumat
tak ada kesunyian yang hendak menjerat Sebab di matamu selalu hidup harapan sedang di mataku engkau tak pernah hujan

Engkau menyambangiku, membawa bermacam suara saling bercerita, dan aku siap menempuh peluk hangatmu yang sederhana

Pesantrenku

Dari rahimmu lahir pencerah-pencerah negeri Dari dirimu terpancar sinar-sinar Ilahi
Islam kau Indonesiakan, Indonesia kau pancasilakan, Pancasila kau Islamkan
Jiwa ragamu merah putih, semangatmu Allahu Akbar
Keragaman Indonesia kau muliakan Islam Indonesia kau bahanakan Menggelegar ke pelosok Nusantara Kau istiqomah kesederhanaan
Kesederhanaan hakiki yang membahagiakan

Kau gawang nasionalisme negeri ini, Kau perawat budaya luhur bangsa ini Kau pembimbing suci keimanan umat ini
Kau tak goyah dihempas badai globalisasi Tak tergilas arus modernisasi

Pesantren ku,
Kau harus jadi pengendali peradaban Teguh tak menyerah nafaskan Islam Sumbangsihmu tak terbilang Keikhlasanmu bukan sekian-sekian

Darah dan nyawa kau hibahkan untuk memerdekakan Kau terus mengisi kemerdekaan
Tunjukkan jatidirimu, cahayakan kebenaran Hubbul wathon minal Iman

Sepenggal Bahasa Mendulang Agama Bangsa

Berpuluh tahun kunikmati segala yang ada,
Kasih demi kasih, sayang, cinta: seluruh kehidupan.

Sekian waktu yang terjarah kau damaikan
Diksi berbalut lorong yang berbisa dengan putaran masa Sang relevan yang dermawan menunjukkan aksi
Kau bertarung melawan lirih tonggak bisu Yang memburu gubahan puisimu yang meronta Menembang kata di pematang kurvamu
Agar tetap kita menetap aroma bahasamu di pelintang tanah bangsa, Ajaran-ajaran yang mendulangkan kedamaian

Diksimu yang mengungkapkan ketentraman Hingga merambat dalam jiwa
Menyimpan kenang tugu juang
Saat harus memeram pusaka dari bumi yang sempit Dalam pijar jengkal warisan yang lalai hilang

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top