Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan? Gak Juga

Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan

Islam Santuy – Astagfirullah, gaboleh fitnah, tau gaksih fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan? Demikian komentar netizen kalau lihat berita hoax/tuduhan di sosial media.

Dan bukan hanya di sosial media, di kehidupan real-pun kadang seperti itu. Kadang ada yang langsung bawa ayatnya, Qs. al-Baqarah 191, al-fitnatu asyaddu minal qatl. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Kata mereka..

Ya bener sih, tuduh-menuduh apalagi tanpa dasar itu adalah suatu kesalahan. Tapi masa iya pengibaratannya lebih baik membunuh ketimbang menuduh? Kok kayak gak bisa diterima akal ya?

Diksi Fitnah Yang Gagal Dipahami

Kita garis bawahi dulu sebelum masuk ke dalam konteks yang lain. Potongan ayat al-fitanu asyaddu minal qatl tidak tepat jika kita gunakan untuk menyalahi perilaku tuduh-menuduh. Meskipun dalam ayat tersebut terkandung diksi fitnah. 

Mungkin netizen yang menggunakan dalil ini menganggap fitnah yang dimaksud ayat tersebut adalah fitnah berupa tuduhan. Barangkali pikirnya karena dalam bahasa Indonesia makna fitnah adalah tuduhan, maka yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah tuduhan juga.

Arti Kata Fitnah Dalam Bahasa Arab

Alquran itu turun dengan bahasa Arab. Hal ini membawa konsekuensi bahwa pemahaman kata dalam Alquran harus dimaknai dengan merujuk pada pemahaman bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia. Jadi kalau orang Indonesia mahamin kata fitnah dengan perilaku tuduhan, gak bisa serta merta kita pahamin kata fitnah dalam Alquran dengan perilaku tuduhan juga.

Meskipun mungkin kata fitnah dalam bahasa Indonesia terserap dari bahasa Arab, namun nyatanya arti fitnah dalam kedua bahasa tersebut terbeda. Fitnah dalam bahasa Arab lebih mengarah pada makna cobaan, ujian, dan kezhaliman. Demikian pendapat masyhur mengenai kata fitnah ini.

Lebih Paham Kata Fitnah Dalam Alquran

Sekarang kita masuk dalam pembahasan kata fitnah dalam Qs. al-Baqarah: 191.

Kalau kita sandingkan antara makna fitnah dalam bahasa Arab dengan potongan ayat fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, harus makna arti yang mana? Cobaan, ujian, atau kezhaliman? Untuk menjawab ini, yang paling pantas untuk kita lakukan adalah merujuk pada penafsiran para ulama mengenai ayat ini.

Jadi (setidaknya dalam pembacaan penulis), para mufassir cenderung menafsirkan kata fitnah dalam ayat ini dengan arti kesyirikan. Ayat tersebut turun kala Rasulullah Saw. ingin menaklukkan (merangin) Mekkah dari kekuasaan orang kafir (fathu Makkah).

Namun satu konflik batin terjadi, sebab Mekkah adalah tanah haram di mana pembunuhan sangat tidak dibolehkan terjadi di situ. Sahabat jadi bingung, boleh gak ya membunuh di sini? Inikan tanah Haram. Untuk menjawab kebingungan para sahabat, turunlah Qs. al-Baqarah: 191 ini. 

Adapun maksud narasi fitnah lebih buruk daripada pembunuhan dalam ayat ini adalah pembunuhan terhadap kaum musyrik Mekkah. Jadi kesyirikan orang-orang Mekkah sejatinya lebih buruk jika dibandingkan dengan pembunuhan.

Pembunuhan kan buruk, begitu juga dengan kemusyrikan. Namun Alquran menekankan bahwa di antara dua laku tersebut, yang paling buruk adalah kemusyrikan. Dengan penjelasan ini, sahabat jadi oke-oke aja melakukan pembunuhan (karena emang lagi perang) walaupun itu di tanah Haram. Toh apa yang mereka lakuin itu ada tidak lebih buruk dibandingkan kesyirikan orang Mekkah, dan perang ini-pun juga merupakan perintah kala itu.

Gimana? Udah paham lah ya. 

Kenapa Arti Fitnah Dalam Ayat Itu Jadi Syirik?

Tadikan di atas dibilang kalau makna fitnah dalam bahasa Arab itu cobaan, ujian, dan kezhaliman. Tapi kenapa para mufassir mengartikannya dengan syirik?

Para mufassir sebenarnya gak ujuk-ujuk kok bilang kalau fitnah dalam ayat tersebut diartikan dengan syirik. Sebab dalam agama Islam, perbuatan syirik diyakini sebagai suatu bentuk kezhaliman hamba kepada sang pencipta. 

Qs. Luqman: 13 memberikan pernyataan tegas bahwa kezhaliman yang paling besar adalah penduaan terhadap tuhan. Analoginya gini, masa iya sudah dikasih hidup enak, dikasih banyak nikmat, tapi gak nyembah? Mana terimakasihnya? Inikan zhalim.

Begitu juga yang terjadi pada kaum musyrik Mekkah. Mereka sudah menduakan Allah dengan menyembah tuhan lain, mereka ini sudah zhalim terhadap Allah. Makanya fitnah dalam ayat tersebut oleh para mufassir dimaknai dengan kata syirik. Sebab mereka sudah zhalim, dan zhalim ini adalah salah satu bentuk makna dari kata fitnah.

Udah dapat ya logikanya?

Fitnah Lebih Kejam Daripada Pembunuhan? Bukan!

Pembahasan tulisan kali ini hanya terbatas pada kata fitnah dalam Qs. Al-Baqarah: 191 saja. Kebanyakan orang sudah salah kala menggunakan ayat tersebut sebagai sebagai teguran bagi mereka yang melakukan perbuatan tuduh menuduh. Sebab diksi fitnah dalam ayat ini bukan merujuk pada makna tuduhan, tapi kesyirikan.

Iya memang benar tuduhan tanpa adanya bukti itu adalah perbuatan salah. Tapi gak bisa kita hukumin perilaku itu lebih buruk daripada pembunuhan, ayatnya gak tepat. Mungkin ada dalil lain yang ngehukumin perliaku tuduhan ini, yang jelas bukan Qs. Al-Baqarah: 191.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top