Hejaz Railway: Ide Cemerlang Sultan Turki

Hejaz Railway Ide Cemerlang Sultan Turki

Islam Santuy – Beberapa hari belakangan ini, saya sedang melakukan safar di negara Turki. Mata saya selama di sini tersejukkan dengan eloknya seni bangunan yang ada. Sebut saja yang paling terkenal, Hagia Sophia, Masjid Bayezid II, dan Masjid Sultan Mehmet. Masya Allah semua sangat indah kala dipandang.

Jujur, dalam kunjungan saya di Turki, kepala saya tidak henti-hentinya memikirkan salah satu kerajaan besar Islam yang pernah eksis di sini. Imperium besar yang sempat menguasai sebagian besar daerah di Bumi, Kesultanan Turki Utsmani.

Turki Utsmani: Sejarah Singkat

Sudah akrab dengan nama Turki Utsmani? Sedikit saya jelaskan, kesultanan Turki berdiri di tahun 1299 dengan penguasa pertamanya Osman I. Maka tidak heran, kerajaan yang dibangun Osman ini dikenal juga dengan namanya (Ottoman, Utsman, dan Osman sama saja btw).

Sebenarnya, kerajaan Turki awalnya tidak berdiri di tempat yang sebagaimana kita ketahui sekarang. Sesuai dengan catatan sejarah, daerah Anatolia merupakan tempat di mana kerajaan Ustmani berdiri. Dalam perkembangannya, ibukota kerajaan sempat berpindah-pindah. Sampai pada tahun 1453, sultan Mehmed II (Muhammad al-Fatih) berhasil menggulingkan Konstantinopel dari Byzantium. Mehmed kemudian mengganti nama Konstantin menjadi Istanbul, lalu kemudian dijadikan sebagai ibu kota kerajaan Utsmani.

Secara singkat (saya tidak mau terlalu jelaskan panjang lebar), di tahun 1924, kesultanan yang sudah berdiri sekian abad kemudian hancur ketika Mustafa Kemal Ataturk berhasil menggemakan doktrin Republik-Nasionalis-Sekuler, paham yang tentu sangat berseberangan dengan paham Islam yang dianut oleh kesultanan. Keturunan ningrat kesultanan diusir dari istana mereka, paham Islam universal diredupkan, dan ibukota negara dipindah ke Ankara. Sejak saat itu kerajaan Turki Utsmani tinggal kenangan. Hanya catatan dan bangunan bersejarahlah yang kiranya mampu menggambarkan kepada kita bagaimana besar dan agungnya kerajaan yang mampu menguasai pusat perdagangan dunia itu.

Hejaz Railway: Langkah Pemangkasan Waktu Tempuh Perjalanan Haji

Berbicara tentang bangunan bersejarah, saya teringat dengan salah satu saksi bisu kebesaran kerajaan Turki di Madinah, ‘Hejaz Railway’. Walau sekarang sudah dialihfungsikan menjadi museum oleh Saudi Arabia, dulunya bangunan ini adalah stasiun yang mampu menghubungkan umat Islam dalam segi transportasi. Ia terbentang dari Damaskus sampai Madinah, tidak melewati Konstantinopel bahkan Turki (saat ini) memang, namun pencetus akan adanya transportasi ini adalah sultan agung dari Turki Utsmani, Sultan Abdul Hamid II.

Sultan Abdul Hamid II memang dikenal dengan ide-ide progresifnya. Salah satu dari sekian banyak idenya ya ini, jalur yang menghubungkan sekian banyak kota-kota Islam pada saat itu. Memang tidak dapat kita pungkiri, ada banyak alasan politik dan ekonomi atas terbangunnya rute panjang ini. Namun segara harus kita tambahkan bahwa niat utama terkait dengan pembangunan rute tersebut adalah agar para jamaah haji semakin mudah melakukan perjalanan. Tercatat pembangunan rute kereta dari Damaskus ke Madinah resmi terlaksana pada tahun 1900 dan penggunaannya dapat terealisasi secara maksimal di tahun 1908.

Sebelum adanya kereta, jamaah haji pada saat itu hanya berjalan kaki atau menggunakan unta. Waktu tempuhnya (dari Damaskus ke Madinah) sekitar 40 hari. Bayangkan! 40 hari! Akibatnya kerap ditemukan kasus jamaah meninggal saat melakukan perjalanan haji. Ini barangkali yang menjadi alasan Islam hanya mensyaratkan ibadah haji bagi yang mampu.

Namun setelah adanya jalur kereta ini, jamaah dapat menempuh perjalanan hanya dengan 5 hari saja, 35 hari terpangkas! Jamaah tidak perlu panas-panasan jalan kaki atau menunggangi unta. Tidak perlu juga was-was dengan serangan para perompak. Mereka hanya perlu menumpangi kereta dan tunggu 5 hari, sampai sudah di kota Nabi, tinggal melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Tentu ini merupakan langkah cemerlang dari Sultan Abdul Hamid II.

Akhir Cerita Ide Cemerlang

Sudah sedikit saya singgung di atas, stasiun akhir dari rute panjang Hejaz Railway yang berada di Madinah kini tidak berfungsi lagi dan hanya dijadikan sebagai Museum. Dengan kata lain, perjalanan kereta dari Damaskus ke Madinah sudah tidak berjalan. Wujud bangunannya masih ada, tapi tidak dengan laju transportasinya.

Masalah politik kira-kira menjadi alasan utama dari tidak beroperasinya rute penting ini. Kekalahan kesultanan Utsmani di Perang Dunia I menyebabkan negara tersebut terpuruk ke dalam masa kemunduran. Daerah Arab yang dulunya mereka kuasai melenggang maju menuntut kemerdekaan mereka, sebut saja Syiria, Yordania, Iraq, dan Saudi. 

Dan tentu saja, rel kereta menjadi sasaran empuk kaum reformis untuk melemahkan Turki. Secara, transportasi kereta di jalur tersebut juga kerap digunakan sultan untuk mengangkut para tentara. Secara resmi, di tahun 1921 perjalanan kereta benar-benar lumpuh. Akhirnya sampai sekarang, rute kereta Damaskus-Madinah tidak pernah berjalan lagi. 

Rute yang memudahkan ibadah agung terlumpuhkan hanya karena para elit berebut kuasa. Apa mau dikata, sejarah tetaplah sejarah. Kadang ia ditulis dengan tinta hitam, kadang pula dengan tinta merah. Namun yang pasti, (barangkali) kita semua sepakat bahwa sejarah pembangunan Hejaz Railway atas ide Sultan Abdul Hamid II ditulis dengan indah bersama tetesan tinta hitam.

Penutup

Tentu saya sadar, sejarah mengenai Hijaz Railway yang saya tulis di atas terbilang sangat kurang. Sebenarnya tulisan saya bukan ingin menjelaskan kisah rute kereta Damaskus-Madinah secara jelas dan clear, pun mengenai sejarahnya temen-temen bisa cari di Google. Yang saya maksudkan dengan tulisan ini adalah pujian saya terhadap kecemerlangan ide Sultan Abdul Hamid II, di mana apa yang ia gagas sangat membantu dan memudahkan para jamaah haji.

Lantas kenapa harus Sultan Turki yang saya puji? Simple, karena saya di Turki dan itulah yang sedang saya fikirkan..

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Muhammad Bachrus Syifa
Sarjana agama, Founder Al-Afkar Haji & Umrah. Tertarik dengan biro perjalanan saya? Cek saja di Instagramnya, @alafkarservices

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top