Hukum Tawassul, Apakah Haram?

Hukum Tawassul, Apakah Haram?

Hukum Tawassul – Salah satu hal yang sering dipertentangkan dalam Islam adalah hukum tawassul. Banyak pihak yang menuduh bahwa hukum tawassul ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Alasannya adalah karena bisa menyebabkan orang yang bertawassul terjerumus ke dalam keyirikan kepada Allah sebagai Tuhan.

Namun apakah hukum tawassul demikian adanya? Benarkah tawassul bisa menyebabkan seseorang menjadi syirik? Adakah landasan hukum tentang tawassul dalam Islam? Adakah pratik bertawassul pada zaman Nabi maupun sesudahnya? Islam Santuy siap menjawab pertanyaan ini!

Apa Itu Tawassul?

Pertama mari pahami dulu apa dan bagaimana itu tawassul. Dalam pratik-praktik yang ditemukan di masyarakat, tawassul tak ubahnya permohonan kepada Allah yang disertai dengan rayuan. Posisi tawassul adalah rayuan ini, yakni seorang meminta kepada Allah dengan rayuan agar Allah mengabulkan maksud seorang hamba.

Analoginya ketika kita meminta pertolongan kepada orang lain. Tentu kondisinya akan berbeda jika kita meminta tolong tanpa adanya rayuan perantara dengan kita membawa rayuan perantara. Orang yang kita mintai tolong pasti akan lebih luluh jika kita membawa sesuatu yang dia senangi. Seperti itulah gambaran tawassul.

Tawassul dalam kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karangan KH. Ali Maksum Krapyak Yogyakarta adalah ” طلب الحاجة بجاهه او ببركته”. Artinya Tawassul adalah hendak meminta hajat (kebutuhan) dengan menggunakan sesuatu yang ditawassulkan dengan tujuan agar hajat tersebut bisa dikabulkan.

Dalil Bertawassul Kepada Nabi Muhammad

Dalam konteks ini, tawassul yang paling utama kepada Nabi Muhammad SAW kemudian kepada orang-orang Salih. Lalu apakah ada contoh yang membolehkan bertawassul kepada Nabi? Jawabannya ada! Hal ini sekaligus menandakan bahwa hukum tawassul itu boleh.

Bahkan tawassul kepada Nabi Muhammad terjadi pada tiga masa, yakni masa sebelum lahirnya Nabi, masa hidupnya Nabi dan masa setelah wafatnya Nabi. Coba kita bahas satu-satu dalilnya.

Contoh Tawassul Kepada Nabi Muhammad Sebelum Beliau Lahir

Tawassul masa sebelum lahirnya Nabi Muhammad pernah dicontohkan oleh Nabi Adam As. Riwayat ini terangkum dalam kitab al-Mustadrak karya imam Hakim melalui riwayat Umar bin Khattab Ra. ketika Adam melakukan kesalahan lantas ia berdoa kepada Allah menggunakan redaksi: “يا رب أسئلك بحق محمد لما غفرت لي؟”, ya Tuhanku aku sudah meminta ampunan kepadaku melalui Nabi Muhammad, lalu mengapa engkau belum mengampuniku? Singkat cerita Allah mengampuni Adam karena ia telah bertawassul dengan mahkluk yang paling dicintainya yakni Nabi Muhammad Saw.

Contoh Tawassul Kepada Nabi Muhammad Saat Beliau Hidup

Tawassul semasa hidupnya Nabi terekam dalam Hadits riwayat imam Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, Hakim dan Ahmad melalui riwayat Utsman bin Hanif. Ada seorang yang mengalami kebutaan datang kepada Nabi Muhammad meminta untuk mendoakannya kepada Allah agar penyakitnya bisa disembuhkan. Kemudian Nabi menyuruh orang tersebut agar segera berwudhu. Orang tersebut lalu berwudhu dan berdoa menggunakan redaksi: “اني أسئلك وأتوجه اليه بنبيك محمد نبي الرحمة ” ya Tuhanku aku meminta kepadamu dan aku menghadapmu melalui Nabimu, Nabi Muhammad Nabi yang penuh rahmat.

Contoh Tawassul Kepada Nabi Muhammad Setelah Beliau Wafat

Tawassul setelah wafatnya Nabi terekam dalam Hadits yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah bahwa di zaman Khalifah pernah terjadi paceklik. Salah satu sahabat Nabi bernama Bilal bin Harts datang ke kuburnya Nabi lalu berdoa dengan redaksi: استسق لامتك فإنهم هلكوا فأتاه النبي في المنام وأحبره انهم يسقون  wahai Nabi mintakanlah hujan kepada ummatmu karena mereka banyak yang menderita. Kemudian Nabi mendatangi Bilal dalam mimpi dan mengabarkan bahwa hujan akan segera datang.

Penutup

Contoh-contoh di atas adalah landasan bahwa praktik tawassul kepada Nabi sudah ada sejak zaman Nabi masih hidup maupun sesudah wafat. Bahkan Nabi Adam pun memohon ampun dengan bertawassul kepada Nabi Muhammad. Sekali lagi, tawassul bukan meyakini bahwa dikabulkannya permintaan sebab lantaran tawassul.

Dikabulkannya doa tetap hak prerogatif Allah. Namun suatu permintaan yang dibarengi dengan sesuatu yang disenangi Allah seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam adalah cara agar permintaan itu bisa dikabulkan dengan segera. Tawassul adalah cara untuk menarik perhatian Allah atau dengan bahasa lain merayu Allah.

Apakah boleh merayu Allah? Tentu saja boleh. Meminta saja boleh bahkan diperintah sendiri oleh Alllah. Memusuhi saja, Allah sendiri yang berkata siapa yang memusuhi waliku maka ia adalah musuhku. Seberapa banyak dari kita yang memusuhi wali Allah? Memusuhi Allah saja boleh apalagi cuma merayu.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Avatar
Jaringan Ulama Muda Nusantara (JUMAT) Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top