Ketika Agama Berhenti di Kerudung

ketika agama berhenti di kerudung

Islam Santuy – Agama sering kali menjadi titik sentral dalam kehidupan banyak individu, mempengaruhi keyakinan, perilaku, dan interaksi sosial. Di banyak masyarakat, termasuk di dalam masyarakat Muslim, kerudung menjadi simbol kepatuhan dan penghormatan terhadap ajaran agama. Namun, ironisnya, terkadang dalam pemahaman dan praktik sehari-hari, agama diidentifikasi secara sempit hanya dengan penampilan fisik, seperti mengenakan kerudung. Hal ini mengarah pada perilaku merendahkan dan menghakimi terhadap perempuan yang memilih untuk tidak mengenakan kerudung atau memakainya dengan cara yang dianggap tidak memadai oleh standar tertentu.

Judgement Atas Nama Agama Yang Tidak Perlu

Sikap merendahkan perempuan yang memilih untuk tidak mengenakan kerudung adalah masalah yang kompleks yang memerlukan pemahaman mendalam tentang untuk menyelesaikannya. Pertama-tama, penting untuk diingat bahwa agama seharusnya tidak hanya terfokus pada aspek fisik semata, tetapi juga pada nilai-nilai moral, etika, dan kebaikan hati. Jadi, ketika seseorang menilai keberhasilan atau kepatuhan seseorang terhadap agama hanya berdasarkan penampilan luar, hal itu mengurangi substansi dan makna sebenarnya dari ajaran agama tersebut.

Lebih lanjut, sikap merendahkan perempuan yang tidak mengenakan kerudung atau mengenakannya dengan cara yang tidak biasa menciptakan ketegangan dan divisiveness dalam masyarakat. Ini menciptakan perpecahan antara mereka yang mengenakan kerudung dan yang tidak, mengaburkan kesamaan yang lebih besar yang harus dijaga oleh umat beragama. Agama seharusnya menjadi sumber kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang, bukan alat untuk menyalahkan dan merendahkan orang lain.

Perlu dipahami bahwa pemilihan untuk mengenakan kerudung atau tidak merupakan keputusan yang sangat personal dan kompleks bagi banyak perempuan. Ada berbagai alasan mengapa seseorang memilih untuk mengenakan atau tidak mengenakan kerudung, termasuk faktor budaya, lingkungan sosial, dan pemahaman pribadi tentang agama. Merendahkan atau menghakimi orang lain atas pilihan mereka dalam hal ini hanya menciptakan ketidakadilan dan ketidakberpihakan.

Selain itu, fokus yang terlalu besar pada penampilan fisik, seperti kerudung, sering kali mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih mendesak dalam masyarakat, seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan kekerasan. Daripada menghabiskan energi dan waktu untuk menilai penampilan orang lain, lebih baik beralih untuk bersama-sama menangani isu-isu yang benar-benar membutuhkan perhatian kita.

Harus Bagaimana?

Penting untuk mengakui bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang sangat subjektif dan tidak terukur. Tidak ada satu standar tunggal yang dapat digunakan untuk menilai seberapa “sempurna” seseorang dalam praktik agamanya. Setiap individu memiliki perjalanan spiritualnya sendiri, dengan tantangan, rintangan, dan pencapaian yang unik bagi mereka. Jadi, menganggap diri sendiri sebagai yang paling benar atau paling sempurna dalam praktik agama adalah tindakan yang sombong dan tidak menghormati keragaman pengalaman dan keyakinan. Saat di mana seorang menghakimi wanita hanya karena tak bertudung, kiranya disitulah agama berhenti di kerudung. 

Dalam menghadapi fenomena ketika agama berhenti di kerudung, langkah pertama yang perlu diambil adalah memperluas pemahaman kita tentang agama sebagai suatu keseluruhan. Agama adalah jalan menuju kedamaian, kasih sayang, dan pengertian, bukan alat untuk menghakimi atau merendahkan orang lain. Kita perlu mengembangkan sikap inklusif dan penuh kasih terhadap sesama, terlepas dari penampilan fisik atau praktik keagamaan mereka.

Selain itu, penting juga untuk mempromosikan dialog dan pemahaman antar-individu yang berbeda dalam masyarakat. Ini membutuhkan kesabaran, empati, dan sikap terbuka untuk memahami perspektif dan pengalaman orang lain. Dengan membangun jembatan komunikasi dan pemahaman, kita dapat memperkuat ikatan sosial dan mengatasi perpecahan yang mungkin timbul akibat perbedaan dalam praktik keagamaan.

Di akhir, perlu diingat bahwa agama seharusnya menjadi sumber kedamaian, harmoni, dan persatuan, bukan alat untuk menyalahkan atau merendahkan orang lain. Ketika kita memahami dan menerima keragaman dalam praktik keagamaan, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan penuh kasih. Itulah inti dari pesan sejati dari ajaran agama manapun.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi
Alumnus Ponpes Tebuireng dan Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top