Khutbah Dengan Bahasa Arab, Wajib Ya?

Khutbah Dengan Bahasa Arab

Hukum berkhutbah Dengan Bahasa Arab – Pernah pergi jumatan terus dengerin khutbah full berbahasa Arab? Mungkin bagi mereka yang paham bahasa Arab, ini tidak akan menjadi masalah. Tapi untuk kamu yang tidak paham, tentu hal ini adalah masalah serius.

Coba bayangkan, khutbah yang seharusnya menjadi ladang pemasukan ilmu tidak kamu pahami karena keterbatasan bahasa. Akhirnya pergi jumatan cuma untuk sholat dan antri nasi berkat. 

Fenomena Khutbah Dengan Bahasa Arab, Kenapa Bisa Terjadi?

Sampai saat ini, masih banyak kita temukan masjid di Indonesia yang khutbahnya full berbahasa Arab, dari awal sampai akhir. Husnuzon kita banyak di antara jamaah paham mengenai apa yang khatib sampaikan. Terlihat dari anggukan mereka dengan wajah serius mendengar.  

Tapi sebenarnya ya begitu, realita tetap mengatakan bahwa sebagian besar (atau mungkin hampir semua) jamaah tidak paham mengenai apa yang khatib sampaikan. Realita juga bilang bahwa yang ngangguk-ngangguk tadi sebenarnya kebanyakan pura-pura paham aja (btw ini analisa para pemuda di salah satu masjid). 

Menanggapi hal ini, khatib tidak bisa disalahkan. Sebab tugasnya hanya menyampaikan khutbah berdasarkan aturan atau kebiasaan masyarakat setempat. Mungkin lingkungan masjid tersebut memegang aturan yang mengatakan bahwa menyampaikan khutbah selain dengan bahasa Arab hukumnya tidak boleh. 

Emang gak ada hukum lain selain hukum di atas? Nyatanya ada juga masjid yang menggunakan bahasa selain Arab. Nah ini yang Islam Santuy akan bahas. 

Apa Berkhutbah Dengan Bahasa Arab Itu Wajib?

Kelihatannya untuk menjawab pertanyaan ini enak-enak saja begitu. Bisa aja kan ya kita langsung jawab iya apa tidak. Namun kenyataannya kita harus meninjau dua aspek, yaitu pandangan ulama mengenai penyampaian khutbah dengan bahasa Arab, serta konteks paham atau tidaknya jamaah terhadap bahasa Arab. 

Supaya gak bingung kita bahas satu-satu secara runtut. kondisi sosial yang ada di masyarakat sekarang, Baru kemudian perbedaan pandangan ulama. 

Konteks Dalam Fenomena Bahasa Arab Saat Khutbah

Jika kita melihat kondisi yang ada, tentu tingkat pemahaman masyarakat luas mengenai bahasa Arab sangat rendah. Perkataan ini bukan untuk mendiskreditkan, namun begini adanya. Jika kita bandingkan, tentu masyarakat yang tidak paham bahasa Arab lebih banyak jumlahnya dari yang paham. 

Jujur-jujuran aja. Tidak semua masyarakat memiliki akses untuk belajar bahasa Arab. Mungkin ada yang memiliki akses, tapi tidak ada lingkungan untuk praktek. Karena pada faktanya, masyarakat Indonesia tidak berbicara dengan bahasa Arab, melainkan bahasa Indonesia atau daerah.

Dengan konteks yang seperti ini, apabila dipaksakan menggunakan bahasa Arab, tentu sebagian besar masyarakat tidak akan paham. Akhirnya mereka hanya mendengar tapi tidak memahami isi khutbah. 

Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Hukum Berkhutbah Dengan Bahasa Arab

Setelah mengetahui konteks, mari kita bahas mengenai pandangan para ulama. Pendahuluan bahasan konteks dari pembahasan produk hukum akan memudahkan kita memilih pandangan mana yang akan kita pilih kedepannya. Tinggal kita sesuaikan, mana yang sekiranya relevan dengan konteks sosial yang terjadi. Bukan untuk menyalahkan, namun lebih kepada memilih yang lebih bermaslahat. Toh semua ulama besar yang berpendapat. 

Terjadi perbedaan pendapat dalam masalah bahasa penyampaian saat khutbah di kalangan para ulama. Kiranya ada 3 pandangan mengenai hal ini. Pandangan-pandangan tersebut adalah

  1. Yang berpendapat bahwa khatib mutlak wajib menyampaikan dengan bahasa Arab walaupun jamaah tidak memahaminya.
  2. Yang berpendapat bahwa khatib penggunaan bahasa Arab adalah suatu yang disyaratkan. Namun jika jamaah tidak mampu memahaminya, maka khatib boleh menggunakan bahasa mereka.
  3. Yang berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab hanya sebatas penganjuran bukan persyaratan sebagaimana pendapat kedua.

Dari tiga pendapat ini, pendapat terakhirlah yang paling banyak menjadi rujukan mayoritas umat muslim saat ini. Buktinya bisa kita lihat pada fakta bahwa lebih banyak khatib yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai perantara komunikasinya dengan jamaah. 

Sebaiknya Pilih Pendapat Yang Mana?

Sesuai dengan rujukan mayoritas. Yaitu pendapat dengat pertanyaam “khutbah dengan bahasa Arab hukumnya hanya sebatas penganjuran,” bukan syarat. Pemilihan ini bukan hanya didasarkan pada mayoritas saja. Tapi ada beberapa alasaan yang menguatkan. Alasan tersebut adalah

  1. Tidak ada dalil yang jelas, ketat dan tegas terkait aturan penggunaan bahasa Arab saat khutbah.
  2. Berjalan sesuai motivasi pengutusan nabi terkait dengan penyesuaian bahasa kaumnya. (Kamu bisa lihat dalilnya di Qs. Ibrahim: 4)
  3. Sejalan dengan maksud utama dari khutbah, yaitu menyampaikan nasehat kepada jamaah.

Alasan-alasan ini sejalan dengan konteks yang sebelumnya kita bahas. Banyak jamaah yang masih belum paham mengenai bahasa Arab. Tentu penggunaan bahasa yang dimengerti oleh jamaah akan lebih memberikan mashlahat. Pemilihan ini juga terjadi karena tidak ada dalil yang memberikan aturan bahwa khutbah dengan bahasa Arab itu wajib hukumnya.

Alasan lain yang tidak kalah penting adalah inti dari khutbah itu sendiri. Secara langsung atau tidak, kita mestinya sepakat bahwa maksud dari khutbah adalah ilmu yang kita dapat setelah menyimak. Bagaimana seorang bisa mendapat ilmu jika bahasanya saja tidak ia pahami?

Jadi Kalau Khutbah Tidak Berbahasa Arab Itu Boleh?

Iya boleh, tapi tidak serta merta full ditinggalkan. Bahasa Arab tetap harus digunakan dalam rukun-rukun khutbah. Adapun rukun-rukun tersebut adalah: 

Pertama lantunan pujian kepada Allah Swt, kedua shalawat kepada Muhammad Saw. Ketiga penyampaian wasiat. Dalam aturannya, khatib harus menyampaikan tiga hal ini di dua khutbah (khutbah kan ada dua tuh). Keempat membaca ayat Alquran di salah satu khutbah, dan kelima adalah berdoa mengenai keselamatan akhirat untuk muslimin dan muslimat.

Dan untuk menjembatani konteks yang tadi kita bahas, khatib bisa menerjemahkan penyampaian itu dalam bahasa lain. Tentunya bahasa yang bisa dipahami oleh jamaah. 

Penutup

Gimana? Paham lah ya hukum berkhutbah dengan bahasa Arab itu bagaimana. Intinya, penyampaian khutbah dengan bahasa selain Arab boleh-boleh saja. Namun berbeda dengan rukun, sebab rukun harus disampaikan dengan bahasa Aarab. Tujuan utamanya adalah agar jamaah tidak hanya menyimak perkataan khatib, tapi mereka juga bisa paham. 

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top