Luruskan Langkah dan Pandangan

Luruskan Langkah dan Pandangan

Islam Santuy – Pernahkan merasakan kegagalan dalam hidup? Walaupun setiap orang terkadang memaknai kegagalan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Tapi tak jarang pula orang salah memaknai kegagalan yang hanya terbatas pada pendapat dan opini seseorang terhadapnya. Meskipun disisi lain pemaknaan-pemaknaan itu dapat berkembang seiring berjalannya waktu, tapi yang perlu untuk diketahui oleh semua orang adalah bahwasannya kegagalan dan kesuksesan tidak selalu datang dari hinaan dan pujian orang lain.

Pernahkan melihat orang yang stress memikirkan targetnya yang selama ini diperjuangkannya tak berhasil ia capai? Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Tak lain dan tak bukan perasaan stress dan tekanan batin terlahir dari ambisi dan keserakahan yang terpendam dalam hati manusia. Ambisinya untuk menjadi juara, menjadi yang terbaik dan meraup berbagai pujian itulah yang banyak mengusiik batin seseorang. Keserakahan manusia juga ikut andil memperparah keadaan tersebut. Keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain dan menguasai semua yang ada di depan matanya terkadang memanuhi hati dan pikiran manusia hingga tak ada lagi ruang kosong untuk sekedar intropeksi diri atau memikirkan orang lain apalagi untuk berempati pada sesama.

Perenungan Akan Tujuan

Di masa ini melihat fenomena yang sudah menjadi penyakit akut di tengah kehidupan manusia tersebut, seharusnya menjadi rambu-rambu peringatan bagi semua orang untuk mulai meluangkan ruang dalam hatinya. Sekedar merenungi dan mengingat kembali tujuan tuhan menciptakan manusia. Tugas dan kewajiban kita sebagai manusia hanyalah mengabdi kepada tuhan dan menjadi khalifah di bumi ini. Tapi kewajiban tersebut rupanya banyak tergeser oleh egoism dan nafsu manusia.

Pengabdian kepada tuhan tak lain adalah dengan menjalankan seluruh perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Sedangkan untuk menjadi khlifah, manusia diabebankan kewajiban untuk menjaga keharmonisan dan kelestarian alam. Alih-alih menjaga keharmonisan alam, manusia malah menjadi sumber kerusuhan alam. Dengan mengkambing hitamkan alam, manusia memuaskan ambisinya. Matahari yang hanya menjalankan kewajibannya sebagai sumber cahaya dan membantu tanaman mendapatkan makanannya, malah dituduh telah membakar dan merusak hutan yang kelak akan didirikan pabrik-pabrik dan pertambangan.

Akibat Disorientasi Hidup

Kesalahan dalam menetapkan tujuan atau orientasi hidup tersebut hanya akan menciptakan dunia yang penuh persaingan dan keegoisan. Bisa disebut apa kondisi seperti ini? Sudah pasti kondisi kehancuran. Karena manusia dan alam tidak lagi berjalan beriringan dan bahkan dapat ditemui kondisi dimana alam sekitar mengkudeta dan mengancam manusia yang merupakan khalifah dan wakil tuhan di bumi ini.

Ambisi manusia untuk memperkaya diri telah banyak menyakiti perasaan alam sekitar. Apakah hal seperti ini dapat kita pungkiri? Tentu saja tidak. Sudah banyak bencana yang seakan menjadi Bahasa bagi alam dalam menyampaikan isi hatinya. Hutan Kalimantan yang digilas demi dijadikan sumber uang manusia mulai melakukan gerakan unjuk rasa atas segala perlakuan yang diberikan manusia terhadapnya. Banjir dan tanah lonsor adalah cara mereka mengingatkan manusia agar kembali ke jalan yang benar sebagai seorang khalifah.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa sesuatu yang dapat diterima akal tidak akan berubah, mungkin peristiwa yang ditemui di masa ini dapat mematahkan pikirannya tersebut. Bencana banjir dan tanah longsor di Kalimantan dulu merupakan hal yang tidak masuk akal dengan hutannya yang luas dan rindang. Tapi kini alam telah merubah pola pikir manusia, bahwa bencana-bencana alam itu bukan menjadi hal yang mustahil lagi serta telah membuat akal menerima segala hal yang sebelumnya dianggap mustahil.

Kembali ke Jalannya

Melihat akibat dari kesalahan dalam menetapkan tujuan hidup yang pada akhirnya berimabs pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, renungan dan intropeksi diri haruslah menjadi hal yang diutamakan manusia untuk kembali pada tujuan awal kita diciptakan. Kembali memusatkan pikiran kepada usaha untuk terus mengabdi kepada tuhan dan menjaga keharmonisan alam dengan memperhitungkan segala akkibat yang dapat mengusik alam ini.

Dengan cara itulah manusia tak lagi resah memikirkan pujian ataupun hinaan yang ia peroleh dari orang lain. Karena hinaan tidak menjadikan seseorang terhina dan pujian tidak membuat seseorang terpuji, Tuhannyalah yang menjadikan seseorang terpuji dan terhina Begitupula dengan perasaan frustasi akibat kegagalan yang ia dapati dalam hidup.  Segalanya hanya akan menjadi angin lalu dan bumbu pelengkap dalam perjalanan hidup. Pada kondisi inilah mnuisia dapat benar-benar melihat dunia sebagaimana mestinya tanpa dipengaruhi ambisi ataupun nafsunya.

Lalu akan tercipta kondisi dimana manusia merasakan kenyamanan (muthma’innah), tidak lagi merasakan takut mengadapi segala macam  resiko dalam hidup, dan tak akan bersarang dalam hatinya perasaan sedih. Kondisi seperti inilah yang disebut oleh Al-Attas sebagai iman. Dan janji Allah bagi orang yang berimanpun dapat benar-benar dirasakan. “la khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun”.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top