Melihat Kesalahan Politik Husein bin Ali Dalam Tragedi Karbala

Melihat Kesalahan Politik Husein bin Ali Dalam Tragedi Karbala

Islam Santuy – Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Kalau kamu belum baca, mending baca dulu di sini.

Detik-Detik Terjadinya Tragedi Karbala

Walau pada akhirnya Husein hanya memiliki pasukan yang sedikit, ia tetap menjadi ancaman bagi kekuasaan Yazid. Yazid yang merasa awas dengan pergerakan Husein tidak menyepelekan lawan politiknya sedikitpun. Ia mengerahkan pasukan untuk menghalau pergerakan Husein.

Jika taktik propaganda belum cukup untuk menghentikan lawan, maka perlawanan terbuka bisa manjadi opsi menarik. 

Pasukan Yazid Mengikuti Pergerakan Husein

Maka kemudian pasukan Yazid membuntuti pergerakan Husein. Belum terjadi penyerangan sejauh itu. Husein masih diminta untuk mundur dari niatnya menumbangkan kekuasaan Yazid. Ia disadarkan bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Lebih baik ia pulang lagi ke Madinah dan berbaiat kepada Yazid, keamanannya akan terjamin.

Berkali kali Husein menolak tawaran tersebut. Ia masih kekeh melanjutkan perjalanan. Pasukan Yazid juga saat itu belum memerangi Husein, masih sebatas mengikutinya saja padahal jumlah mereka 1000. Bisa saja mereka langsung menyerang, namun rasa hormat kepada cucu nabi membuat mereka berfikir dua kali.

4000 pasukan kembali dikerahkan untuk menghadang perjalanan Husein. Bayangkan, sebenarnya 1000 pasukan saja sudah cukup untuk menghabisi Husein dan kabilahnya. Ini merupakan tanda bahwa Yazid serta jajarannya sangat awas dengan pergerakan politik Husein.

Tidak Ada Kesepakatan Antar Kedua Pihak

4000 pasukan telah tiba. Husein melihat keadaannya semakin terpojok. Parahnya lagi pasukan tambahan yang datang adalah orang-orang Irak, orang-orang yang dahulu mengiriminya surat!

Husein kemudian melunak dan memanggil panglima pasukan musuh untuk berdialog. Ia bersedia melakukan tiga opsi pilihan, yaitu Husein tidak melanjutkan perjalanan dan akan berbalik ke Madinah, ia akan membaiat Yazid, atau ia mendapat hukuman hidup dalam pengasingan.

Namun sayang, tawaran itu semuanya tertolak. Sudah ada 4000 pasukan, pasukan Yazid terlalu OP. Pihak Yazid menganggap bahwa seharusnya ada tawaran lain yang diberikan oleh Husein. Kitakan sudah di atas angin, mau lebih dong. Masa iya cuma segitu. Kira-kira demikian argumennya.

Husein (sekal lagi) Menolak

Pihak Yazid (dalam hal ini diwakili oleh Gubernur bagian Irak) mengklaim bahwa tawaran yang dikirimkan Husein bisa mereka terima dan pertimbangkan lebih lanjut. Namun dengan satu syarat, Husein harus tunduk kepada sang gubernur. Dengan demikian, sang gubernurlah yang akan menentukan nasib Husein.

Husein tersinggung dengan tawaran tersebut. Mengapa harus tunduk hanya pada seorang gubernur? Level yang ia miliki seharusnya setara dengan khalifah, pemimpin tertinggi. Ia terlalu istimewa dan agung untuk melakukan semua itu. 

Maka dengan ini tidak ada alasan lagi menunda pertumpahan darah… 

Tragedi Karbala, Kematian Tragis Seorang Cucu Nabi

Tanggal 10 Oktober tahun 680 kisah pilu nan tragis itu terjadi. Dinamakan tragedi Karbala karena mereka bertempur di daerah tersebut. 73 pasukan Husein melawan 5000 pasukan Yazid. Husein memang bertarung sangat heroik, namun sayang hasil akhirnya sangat dengan mudah tertebak. Ia dibunuh, kepalanya ditebas dan dikirimkan kepada gubernur Irak.

Sumpah gaes, aku yang nulis ini yo degdekan gaes. Gataulah ya kalian ngerasain apa gak. Soalnya alurnya aku percepat.

Menimbang Kesalahan Sikap Politik Husein

Kiranya sudah cukup pemahaman konteks dari kisah di atas. Sebenarnya masih panjang dan kompleks, tapi untuk sekarang sudah cukup lah. 

Sekarang kita menimbang beberapa kesalahan yang dilakukan cucu nabi ini dalam laku poltiknya. Bukan untuk men-judge bahwa ia sepenuhnya salah, namun lebih kepada agar kita mengambil beberapa poin pelajaran.

Percaya dan Salah

Kesalahan pertama adalah ketika ia percaya sepenuhnya kepada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka akan setia mendukung Husein. Melihat konstituen seharusnya bukan dengan cara yang demikian. 

Di satu sisi, Husein telah benar ketika melakukan pengecekan iya apa benar masyarakat Irak mendukungnya. Namun di lain sisi, ia telah lalai mempertimbangkan perangai mereka. Mereka terkenal khianat, dan orang yang mereka khianati pun bukan orang yang jauh-jauh dengan Husein. Mereka sempat mengkhianati Ali sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Umar.

Pantang Menyerah Yang Kebablasan

Sikap pantang menyerah memang patut kita puji. Namun pantang menyerah tidak seharusnya kita lakukan saat akomodasi tidak memadai. Jika saja Husein kekeh melanjutkan perjalanan dengan dalih bahwa di Irak pendukungnya masih loyal, kita tidak bisa persalahkan sebab akomodasi Husein untuk meraih tujuannya (merebut kekuasaan) ada. 

Namun dalam kasus ini, tidak ada harapan bagi Husein. Mengapa harus ia pantang menyerah saat kondisi tidak memungkinkan? Mungkin dalam sikap kaum Arab ini patut dipuji. Namun jika kita pandang hal ini dari kacamata politik, maka sikap pantang menyerah Husein kala itu adalah suatu kesalahan.

Sikap Menolak Kesepakatan

Sudah beberapa kali tawaran kesepakatan yang datang kepada Husein. Namun ia tolak semua. Padahal kondisinya saat itu tidak memungkinkan. Seharusnya ia tahu bahwa tidak mungkin perjalanan itu ia teruskan.

Meski pada akhirnya Husein mengajukan kesepakatan damai, namun pada saat itu ia terlambat. Situasi politik telah berubah. Tentara Yazid sudah terlalu di atas angin untuk menerima kesepakatan Husein.

Ibaratnya begini, kesepakatan yang diajukan Husein seharusnya adalah kesepakatan yang terjadi antar pasukan kapasitasnya hampir-hampir sama. Kira-kira 4 banding 6 lah. Jika terjadi perang, mungkin pasukan yang 7 tadi akan rugi-rugi dikit meskipun mereka menang. Namun kondisi saat itu adalah 1 berbanding 9 (atau mungkin kurang dari 1?).

Tidak heran jika Gubernur Yazid menolak ajuan damai dari Husein. Dia terlalu OP untuk itu, ia ingin kesepakatan yang lebih. Sang gubernur menginginkan Husein tunduk kepadanya juga selain kepada Yazid. Hal tersebut akan membawanya pada sebuah legitimasi kekuasaan yang lebih tinggi. Bayangkan, kamu dapat pengakuan dari cucu nabi. 

Penutup

Dalam pertarungan -termasuk juga pertarungan politik-, sangat wajar jika ada pihak yang kalah dan menang. Sebagai politisi, kekalahan dalam sebuah kontestasi politik tidak seharusnya diratapi, sebab lebih baik mengambil pelajaran di dalamnya. Dan kebetulan pernah ada satu kisah yang mengandung pelajaran tentang kesalahan dalam pengambilan sikap politik.

Sekali lagi, tulisan ini bukan ada untuk murni menyalahkan Husein. Namun lebih ingin mengambil pelajaran dari kesalahan sikap politiknya dalam tragedi Karbala. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita saat berpolitik. Mungkin para pembaca ada yang politisi kan ya. Atau minimal jika bukan, kita tau harus bagaimana dalam kondisi tersebut. 

 

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top