Mengoptimalkan Kecerdasan Emosional Dalam Diri, Bisa Gak Yaa?

Mengoptimalkan Kecerdasan Emosional Dalam Diri

Islam Santuy – Manusia sebagai makhluk sosial menjadikan kita terus berurusan dengan orang lain bukan? Entah bertetangga, berteman, bekerja dan lainnya. Pernahkah kalian mengamati beberapa orang yang responsif tehadap kejadian darurat tapi tetap tenang, atau mengamati mereka yang bersikap sebaliknya, panik atau marah bahkan mengambil keputusan dalam keadaan demikian.

Pernah ketemu sama pengendara yang saling memaki di jalan raya karena macet? Padahal macet adalah keaadan yang sangat lumrah. Tapi sebagian orang yang terburu-buru berangkat kerja, sekolah atau keperluan mendesak lainnya menjadikan mereka tidak sabaran dan cenderung bersikap berlebihan. Gausah jauh-jauh deh cari contohnya, cukup diri kita sendiri aja yang masih sering mengungkapkan emosi dengan marah atau mengucapkan kata-kata kotor, bahkan sekali-kali bisa sampai menyalahkan dan menyakiti diri sendiri.  Iya kan?

Gini deh, respon emosional kita dengan marah, kesel, kecewa, sedih, meluapkan kata-kata kotor, menyalahkan diri sendiri atau bahkan orang lain cenderung menjadikan emosi diartikan menjadi hal yang negatif. Padahal bukan demikian kok, emosi adalah perasaan responsif atas suatu kondisi. Ada juga yang positif, misalnya bahagia, ketenangan, cinta atau romansa dan lain sebagainya. Maka dari itu, gimana caranya ga semua emosi kita respon dengan hal yang negatif. Toh setiap diri kita punya kecerdasan emosional dalam porsi masing-masing. Tinggal gimana aja nanti cara mengendalikan kecerdasan tersebut.

Jadi gimana cara mengoptimalkan kecerdasan emosional itu? Emang bisa? Emang ada caranya?

Nah, untuk lebih jelasnya yuk simak secara runtut.

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence), apa sih itu?

Kecerdasan emosional dikenal dengan kemampuan “mendengarkan”, memahami dan merasakan secara efektif bisikan-bisikan emosional dan menjadikannya sebagai kekuatan atau pengetahuan untuk memahami diri sendiri maupun orang lain. Gampangnya gini, seseorang yang mampu mengomtimalkan kecerdasan emosional yang dia miliki akan lebih mudah mengendalikan titik emosional dalam dirinya dan memahami kondisi dari orang lain. Memahami gimana sih? Memahami artinya luas banget kan?

Iya, emang seluas itu arti dari “memahami” disini. Daniel Goleman menyebutkan kecerdasan emosional seseorang setidaknya ada lima komponen pokok yakni kesadaran diri, manajemen emosi, motivasi, empati, dan mengatur hubungan dan keterampilan sosial misalnya pemecahan masalah dalam tim, membangkitkan kepercayaan dan menjalin hubungan dengan baik.

Okeh, sampai sini paham kan? Lanjut ya,

Pentingnya Mengoptimalkan Kecerdasan emosional dalam diri, sepenting apa sih?

Jadi gini gais, Emosi ini menyandang peranan penting dalam hidup kita, bahkan perannya bisa lebih besar daripada pikiran.  Misalnya yang pertama di dunia kerja, mayoritas perusahaan sudah melakukan tes emosional pada calon karyawannya. Karena emosi yang cerdas berkorelasi positif terhadap loyalitas, kebijaksanaan, dan lainnya yang dapat menguntungkan perusahaan. Kedua, Dep. Psikologi Universitas Macguarie Australia dalam Emotional Intelligence and Intimate Relationship Jullie Fitnes menjelaskan bahwa dalam hidup berpasangan,antara dua orang asing yang tinggal dalam satu atap rumah harus saling mengontrol emosi, berempati dan mengerti kebutuhan pasangannya. Misalnya, meminta maaf kalau salah dan tidak perlu banyak bicara saat benar. (biar ga terjadi perang dunia ketiga, ye kan?)

Ketiga, di dunia kesehatan. Kecerdasan emosional masuk pada aspek penyembuhan pasien secara holistic. Kenyataanya mengatakan demikian, bahwa beberapa pasien kanker dapat bertahan yang dipercaya mempunyai hubungan kuat dan jelas antara emosi pasien dengan penyakit yang dideritanya, yaitu rasa semangat hidup, motivasi berupa kalimat-kalimat yang membangun dan menenangkan batin pasien tersebut. Sebenernya masih banyak contoh lainnya tapi yaudahlah, itu cukup kan?

Okeh lanjut, sekarang pertanyaannya.

Gimana cara mengoptimalkan kecerdasan emosional dalam diri kita tersebut?

Tentu ada, beberapa cara yang bisa diimplementasikan pada diri sendiri antara lain:

  1. Mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

Dalam islam sendiri, sudah dianjurkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt., (bisa dilihat di Qs. Ar-Ra’d ayat 28)

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Nah, gimana caranya? Misalkan memperbanyak dzikir dan membaca sholawat. Ga bisa dipungkiri hal ini emang bisa membuat kita lebih tenang dan tidak terbakar amarah saat menanggapi sesuatu yang tidak menyenangkan.

  1. Kesadaran dan kendali diri (self awareness and self control)

Kesadaran diri mengarah kepada pengenalan terhadap emosi diri sendiri, apa yang dirasakan, mengapa demikian, kekuatan dan kelemahannya. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan refleksi pada diri sendiri dengan menyediakan waktu 5-10 menit untuk menuliskan “aku merasa … saat ..”. Sedangkan kendali diri lebih mengarah kepada tidak terlalu reaktif terhadap perlakuan orang lain kepada kita. Misalnya, mengontrol diri ketika akan melakukan suatu reaksi yang berlebihan. Memikirkan apa akibatnya, haruskah aku melakukan ini? Tidakkah ada hal lain yang bisa aku lakukan selain ini? dan lainnya.

  1. Mengarahkan diri untuk berperilaku baik dan positif thinking.

Pengelolaan diri dengan hal-hal positif tentunya akan membantu kita dalam pengoptimalan kecerdasan emosional tersebut. Bukan hanya diri sendiri yang diuntungkan, orang lainpun akan mendapat imbasnya. Mengarahkan diri untuk berperilaku positif misalnya, dapat dilakukan dengan memberikan perhatian kecil, empati dan simpati terhadap orang lain dengan mencoba memahaminya dan merasakan apa yang mereka rasakan. Sedangkan untuk mengasah otak menjadi pribadi yang berpikiran positif dapat dilakukan dengan mengubah cara berfikir yang cenderung terpuruk, mengeluh, stress dan lain sebagainya dengan afirmasi-afirmasi positif ataupun motivasi diri Contohnya;

“Aku akan berusaha lebih giat, dan menjadi lebih baik dari kemarin”

“Aku boleh gagal disini, tapi aku juga masih punya peluang banyak di tempat lain”

“Tidak semua kegagalan buruk, setidaknya aku bisa belajar dari pengalaman ini”

Penutup

Mengomtimalkan kecerdasan emosional dalam diri emang ga semudah yang ditulis atau dijelaskan kok gais, tapi setidaknya kita mau mencoba untuk melakukannya. Mengapa demikian? Supaya diri kita tidak hanya dipenuhi oleh emosi-emosi negatif yang terus menerus menggerogoti kesehatan mental yang kita sebabkan sendiri. Terus-terusan merasa kalah, mengeluh, kecewa, sedih tapi enggan memperbaiki dan mencari solusi yang lain. Begitu pula hubungannya dengan orang lain, jika hanya emosi negatif yang menguasai pikiran kita, bagaimana kita dapat berempati dengan orang lain? Tidak seenaknya mengklaimnya begini dan begitu tapi mencoba memahami apa yang dia rasakan.

Mari hidup beriringan dengan lebih bijak, menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, menjaga gaya hidup sehat dan membangun relasi yang baik dengan orang lain.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Azifatun Nur Fuaidah
Sering males mikir yang ruwet-ruwet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top