Moderasi Beragama, Udah Pada Tahu Belum Tujuan Intinya?

Moderasi Beragama, Udah Pada Tahu Belum Tujuan Intinya?

Islam Santuy – Pernah dengar istilah moderasi beragama? Ini paham yang sedang digencarkan oleh pihak Kementerian Agama Indonesia. Cita-cita inti dari pemahaman ini adalah terwujudnya masyarakat yang saling bertoleransi antar satu sama lain perihal agama. 

Pembahasan mengenai moderasi beragama kali ini merupakan satu langkah pengaplikasian sosialisasi konsep ini kepada masyarakat luas. Ya emang peran masyarakat kadang begini, sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Bukan cuma koar-koar nyalahin kebijakan.

Apa Itu Moderasi Beragama?

Kata moderasi berasal dari bahasa latin moderatio yang artinya sedang, tidak berlebih-lebihan. Dalam bahasa Inggris, dikenal istilah moderation, artinya tidak jauh berbeda, yaitu rata-rata dan tidak berpihak.

Istilah moderasi dalam bahasa Arab dikenal dengan wasth dangan pandanan kata tawassuth yang berarti tengah-tengah. Kata ini menyiratkan makna pilihan terbaik dengan mengambil jalan tengah dari dua pilihan ekstrem.

KBBI mengartikan kata moderasi dengan pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman. Kalau kita teropong lebih dalam, kiranya semua arti tekstual dari 4 bahasa di atas tidak jauh berbeda. Yaitu jalan sedang, rata-rata tanpa berpihak pada yang terlalu ekstrem.

Jika kita sandingkan dengan dengan kata agama, maka maknanya secara cepat dapat kita simpulkan yaitu mengambil posisi tengah dari segala macam paham agama yang ekstrim.

Paham Agama Ekstrim? Emang Ada?

Para sarjana bilang begitu. Mereka kerap membangun diksi ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Ekstrim kanan biasanya dikategorikan sebagai kelompok yang merindukan kejayaan masa lalu, oleh karenanya sebisa mungkin penerapan hukum saat ini harus mengikuti aturan hukum yang dulu, saat sesama umat mereka pernah berjaya. Biasanya mereka ini dari golongan tekstualis yang mengedepankan dalil daripada (bahkan beberapa  meniadakan) peran akal,

Sedangkan ekstrim kiri biasanya dikategorikan sebagai kelompok yang menginginkan perubahan secara signifikan. Mereka kerap menganggap bahwa apa yang ada sekarang tidak berjalan secara optimal, oleh karenanya (kata mereka) masyarakat sekarang harus berubah ke arah yang lebih maju, dengan menggunakan hukum canggih dan meninggalkan apa yang telah lalu. Mereka ini orang yang sangat menjunjung tinggi penalaran dan (biasanya) sebisa mungkin dalil harus tunduk di bawah nalar.

Sebenarnya masih panjang ya pembahasannya, tapi intinya dulu ajalah biar gak terlalu ribet. 

Dua paham ini jauh berseberangan, karena memang di asas fundamentalnya sudah jauh berbeda. Tidak heran jika dalam perkembangannya, kerap terjadi saling adu argumen dan membantah antar satu sama lain. Dan tidak jarang satu sama lain saling membenci dan bahkan membunuh. Contohnya bisa lihat kasus Mihnah. 

Paham Moderasi Beragama Ada di Mana?

Paham moderat terletak di tengah-tengah antara dua paham ekstrem di atas. Ibarat garis bilangan, paham moderat ada di angka 0 jika ekstrim kiri ada di -1 dan ekstrim kanan ada di angka 1. Makanya, paham moderasi ini sebisa mungkin menafikkan paham ekstrim yang sarat kekerasan dan permusuhan, sejalan dengan motivasi digalakkannya paham ini.

Paham moderat ingin mengimbangi dua paham yang sangat berseberangan ini. Dengan moderasi beragama, persimpangan antar dua kutub kelompok ekstrim ingin dicari titik temunya.

Kenapa Moderasi Begitu Penting?

Kementerian Agama melihat bahwa penerapan konsep moderasi sangat penting mengingat kondisi masyarakat Indonesia itu heterogen, maksudnya terdiri dari banyak suku (dan terutama) agama. Tujuan utamanya adalah membangun semangat toleransi antar agama.

Penafikkan konsep ekstrim dalam moderasi beragama dilakukan sebab paham ekstrim akan membawa seorang pada sikap fanatik buta kepada paham mereka sendiri. Hal ini akan menyebabkan mereka tidak menyukai orang lain yang tidak sepaham. Maka jatuhlah ia ke dalam jurang permusuhan dan intoleran.

Sikap ekstrem dalam beragama juga akan berujung pada kekerasan kepada pihak lain. Alasannya masih karena sikap fanatik tadi. Jika yang seagama dengan mereka saja salah, bagaimana nasib mereka yang lain. Suasana tentu akan semakin keruh jika sampai ada paham ekstrim yang menghalalkan darah orang selain kelompok mereka.

Agama adalah suatu yang kita imani dan sangat sarat akan muatan emosi. Siapa yang tidak marah jika argumen agamanya dicaci dan dimaki? Jika timbul sikap intoleransi dan perpecahan antar umat beragama, takutnya hal ini akan membuat bangsa Indonesia yang sebelumnya rukun jatuh dalam peperangan antar kelompok agama, karena semuanya emosi. Ini yang tidak diinginkan oleh semua pihak terkhusus Kementrian Agama.

Penutup

Intinya, paham moderasi beragama adalah paham yang menginginkan terwujudnya kerukunan antar satu dengan yang lain bersamaan dengan tumbuhnya toleransi. Sebab sikap intoleransi akan membawa seorang jatuh kepada pertikaian, permusuhan dan takutnya berujung pada peperangan. Banyak contohnya, coba kamu cari deh. 

Dan satu lagi yang harus kita ketahui, konsep moderasi beragama bukan ada untuk menyalahkan satu pihak. Namun lebih kepada konsep ideologis untuk bersama-sama meredam ego kelompok agama masing-masing demi terwujudnya ketentraman. Bukannya tentram itu indah?

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top