Perbedaan Nabi Dan Rasul, Udah Pada Tahu Belum?

Perbedaan Nabi Dan Rasul

Perbedaan Nabi Dan Rasul – Dalam agama Islam, nabi dan rasul memiliki peran yang sangat fundamental. Bagaimana tidak, ajaran dari Allah kepada umatnya barangkali bisa tidak tersampaikan kepada kita jika tidak melalui perantara nabi dan rasul ini. Mungkin saya, kamu, dan kita semua tidak akan mengenal ajaran Allah jika tidak ada penyampaian dari nabi dan rasul.

Pentingnya nabi dan rasul dalam Islam semakin terlihat bilamana kita menilik rukun iman. Dalam teologi Islam, nabi dan rasul masuk ke dalam rentetan hal yang harus kita imani. Iman maksudnya disini bukan hanya percaya, tapi bagaimana kita juga dapat mengamalkan hal-hal baik yang mereka perbuat.

Apa Itu Nabi dan Rasul?

Nah sebelum kita beranjak ke pembahasan perbedaan nabi dan rasul, kiranya terlebih dahulu perlu kita pahami definisi dari dua hal ini. Tentu nantinya definisi ini akan membawa kita lebih mudah untuk memahami perbedaan nabi dan rasul. Ini juga sebagai antisipasi, siapa tau dari kita ada yang belum tau apa definisinya (Siapa tahukan kamu belum paham).

Supaya pembahasannya runtut, kita bahas satu-satu mengenai pengertian secara bahasa, kemudian pengertian secara istilah. Runtutan pembahasan ini penting sebab kalau kita lanjut merujuk pada literatur yang lebih dalam pembahasannya, kita akan menemukan banyak sekali perbedaan pendapat akan hal ini. Tapi santai, banyaknya perbedaan pendapat ini sebisa mungkin kita hindari penjabarannya, biar gak berat masuk di kepala. 

Pengertian Nabi Secara Bahasa

Kata nabi berasal dari bahasa Arab yang kemudian menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Secara tekstual (menurut analisa dalam bahasa Arabnya), nabi adalah seorang yang memiliki derajat atau kedudukan dengan membawa kabar atau berita.

Pengertian tersebut juga selaras dengan apa yang tertera dalam KBBI selaku rujukan utama kata dalam bahasa Indonesia. KBBI mengartikan bahwa nabi adalah orang yang menjadi pilihan Allah untuk menerima wahyu-Nya. 

Pengertian Rasul Secara Bahasa

Sebagaimana kata nabi, kata rasul juga berasal dari bahasa arab yang makna tekstualnya adalah utusan. Dalam analisa bahasanya, utusan ini bukan hanya merujuk pada utusan dalam perihal bahasa, namun juga utusan dalam perihal dunia.

Kata rasul juga menjadi kata serapan dan kemudian menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. KBBI sebagai rujukan utama bahasa Indonesia memberikan definisi kata rasul sebagai orang yang menerima wahyu Allah untuk disampaikan kepada umat manusia. 

Pengertian Nabi dan Rasul Secara Istilah

Terlalu banyak perbedaan pendapat para ulama mengenai pengistilahan kata nabi dan rasul ini. Ada dari mereka yang menyamakan, ada pula dari mereka yang tidak menyamakan. Namun untuk mempermudah kita menggali perbedaan nabi dan rasul, mari kita tilik pendapat yang tidak menyamakan antara kedua kata ini, dan ini merupakan pendapat yang masyhur.

Secara istilah, nabi adalah seorang yang mendapat wahyu (Sebenarnya bukan hanya wahyu istilahnya, ada yang mengistilahkan dengan ilham, tapi kita pakai wahyu aja dulu ya) tanpa perantara Jibril (berupa mimpi). Tidak ada kewajiban baginya untuk menyampaikan wahyu kepada masyarakat luas. Wahyu ini yang kemudian menjadikan dirinya mendapat martabat tinggi.

Adapun rasul, pengertian secara istilahnya adalah seorang yang mendapat wahyu dari malaikat Jibril. Wajib bagi seorang rasul untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia.

Mengapa Dalam Istilah Nabi Dan Rasul Terdapat Perbedaan?

Nah ini yang penting, ada beberapa aspek yang membuat terjadi adanya suatu perbedaan dalam penggunaan istilah nabi dan rasul. Hal ini yang kemudian membawa para ulama mendefinisikan dua istilah tersebut secara berbeda.

Adapun aspek yang membuat ulama mendefinisikan nabi dan rasul berbeda adalah:

Perihal cara mendapat wahyu

Wahyu maksudnya di sini adalah karunia dari Allah mengenai pemahaman, entah itu mengenai ajaran-Nya (syariat), atau pengetahuan akan dirinya menjadi seorang nabi atau rasul.

Setelah kita coba menilik banyak pendapat ulama mengenai cara mendapatkan wahyunya, kita akan menemukan bahwa rasul mendapat wahyu dari perantara malaikat Jibril. Namun nabi tidak melalui perantara Jibril, maksudnya melalui mimpi.

Perihal Kitab dan Syariat Baru

Supaya lebih paham, ada sedikit penjelasan yang kiranya harus kita bahas. Jadi sejak turunnya manusia ke bumi, syariat bukanlah sesuatu yang tidak pernah berubah. Syariat akan berubah bersamaan dengan rasul yang datang. Misalnya, syariat Isa As. terhapus bersamaan dengan datangnya Muhammad Saw.

Bisa juga terdapat kondisi di mana ada dua syariat dari dua rasul yang berbeda berlaku dengan pada saat yang bersamaan. Misalnya, ada dua orang rasul yang memiliki syariat masing-masing dan tidak saling menghapus satu sama lain. Sebab ajaran mereka hanya berlaku bagi umat mereka saja. Tapi itu dulu, sekarang ajaran yang berlaku hanya syariat Muhammad Saw., sebab sejak beliau menjadi nabi dan rasul, semua orang secara otomatis menjadi umatnya. Nah, kalau kita kaitkan dengan istilah nabi dan rasul, wahyu yang diterima oleh seorang rasul adalah kitab serta syariat baru. Adapun nabi, ia hanya meneruskan syariat dari rasul lain. Jadi ia (nabi) hanya mendapat wahyu untuk mengamalkan syariat dari rasul tadi, bukan mendapat syariat baru. Paham kan ya?

Perihal Penyampaian Syariat

Nah syariat yang rasul dapat dari wahyu tadi wajib mereka sampaikan kepada umat mereka. Namun tidak begitu dengan nabi. Seorang yang mendapat wahyu untuk menjadi nabi (bukan rasul) tidak wajib untuk menyampaikan syariat (yang ia dapat dari rasul sebelumnya) 

Perbedaan Nabi dan Rasul

Dari pembahasan di atas, kita akan lebih mudah mendapat konsep perbedaan nabi dan rasul. Adapun perbedaan tersebut adalah:

  1. Rasul mendapat wahyu dengan perantara malaikat Jibril, nabi mendapat wahyu melalui mimpi.
  2. Rasul mendapat wahyu berupa syariat baru, nabi tidak mendapat wahyu mengenai syariat baru.
  3. Rasul berkewajiban untuk menyampaikan syariat yang ia dapat, nabi tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikan syariat.

Apakah Rasul Ketika Diangkat Otomatis Menjadi Nabi?

Setelah kita bahas perbedaan nabi dan rasul, kiranya pertanyaan ini perlu kita pahami. Apakah rasul adalah nabi juga? Jawabannya adalah iya. Rasul juga adalah seorang nabi. Sebab berdasarkan apa-apa yang kita jabarkan sebelumnya, secara langsung ataupun tidak, mereka (rasul) memenuhi syarat kita sebut sebagai nabi.

Namun tidak begitu dengan nabi. Sesuai dengan batas istilah dan konsep yang yang tadi, nabi tidak dapat kita katakan sebagai rasul. Sebab ia tidak berkewajiban menyampaikan ajaran Allah, ia tidak memiliki syariat baru, dan wahyu yang ia dapat juga bukan melalui malaikat Jibril.

Penutup

Gimana? Sudah paham lah ya mengenai perbedaan nabi dan rasul. Sebagai disclaimer, pembahasan mengenai perbedaan nabi dan rasul sebenarnya kompleks mulai dari definisi bahasa, istilah, hingga pengonsepannya. Namun di sini, kita hanya membahas sedikit saja (minimal kita bahas muqaddimahnya kan ya). Kamu bisa mencari tahu lebih dalam mengenai masalah ini dengan merujuk pada literatur yang lebih luas bahasannya, atau kapan-kapan kita bahas lagi lah ya, pantengin aja islam santuy

 

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top