Ragam Motif Orientalis dalam Kajian Keislaman

ragam motif orientalis

Islam Santuy – Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat di abad 20 menjadi sebuah kabar gembira bagi para ilmuwan maupun akademisi. Hal ini karena perkembangan tersebut turut menunjukkan peningkatan kuantitas dan minat para peneliti untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. 

Secara lebih khusus, perkembangan ini tentunya juga tampak dalam ilmu-ilmu keislaman yang tidak luput menjadi sasaran objek penelitian, terutama oleh para peneliti barat yang haus akan ilmu pengetahuan. Sarjanawan barat yang tendensi kajian ataupun penelitiannya adalah timur, dalam artian ilmu-ilmu keislaman timur tengah disebut sebagai orientalis. 

Orientalisme: Definisi Singkat

Dalam kitab Al-Qur’an Al-Karim fii Dirasat al-Mustasyriqin, Dr. Musytaq Basyir Ghazali menjelaskan bahwa sejak penggunaan kata “timur” selama sekitar seribu tahun, kata “timur” sendiri tidak memiliki definisi yang jelas dan tetap. Kata “timur” juga tidak diartikan sebagai tempat terbitnya matahari. Maka semua arah dalam waktu bersamaan bisa berarti timur atau barat.

Salah seorang sejarawan Yunani kuno, Heredotos, mengartikan “timur” sebagai wilayah Asia dan “barat” sebagai wilayah Eropa. Pandangan ini muncul sebagai implikasi dari perang Persia-Yunani yang menyisakan pengaruh yang cukup mendalam bagi bangsa Yunani. Hal tersebut membentuk pandangan mereka dalam mengartikan “timur” sebagai sesuatu yang terletak disebelah timur negara mereka.

Perkembangan kajian para orientalis tentang ilmu-ilmu keislaman memunculkan respon dari para ulama maupun sarjanawan muslim. Respon ini muncul sebagai bentuk kritik kepada mereka yang kebanyakan kajian-kajiannya mengandung distorsi terhadap fakta-fakta sesungguhnya. Salah satu sarjanawan muslim yang merespon hal tersebut adalah Mustafa as-Sibai’ dalam karyanya al-Istisyraq wa al-Mustasyriqun Ma Lahum wa Ma ‘Alaihim.

Dalam karyanya, Mustafa menjelaskan secara cukup rinci terkait orientalisme, mulai dari sejarah munculnya hingga perjalanan diskusi Mustafa dengan para orientalis di berbagai universitas di Eropa. Akan tetapi, pembahasan yang menarik yang sifatnya fundamental dalam karyanya dan sekaligus menjadi tema utama artikel ini adalah terkait motif-motif para orientalis dalam kajian ketimuran.

Ragam Motif Orientalis Dalam Kajian Keislaman

Dalam al-Istisyraq wa al-Mustasyriqun Ma Lahum wa Ma ‘Alaihim, Mustafa menjelaskan bahwa setidaknya ada lima motif utama para orientalis dalam kajian ketimuran, yakni motif agama, penjajahan, ekonomi, politik, dan ilmu.

1. Motif Agama

Dalam hal ini, motif agama yang dibawa para orientalis sebenarnya sudah mulai tampak sejak para pendeta memulai perjalanan intelektual mereka ke Andalusia untuk mempelajari imu-ilmu ketimuran. Mereka tidak lain hanya ingin mencela Islam, mempreteli kebaikan-kebaikannya, fakta-faktanya untuk menyatakan terhadap komunitasnya bahwa adalah agama yang tidak berhak untuk famous.

Selain itu mereka juga menganggap bahwa umat Islam hanyalah umat yang biadab, pencuri, suka menumoahkan darah. Islam hanya mendorong umatnya kepada hal-hal yang sifatnya kenikmatan jasmani semata dan menjauhkan umatnya dari hal-hal yang sifatnya batin dan hati.

Keinginan mereka dalam menyerang Islam semakin bertambah kuat pada abad ini setelah menyaksikan peradaban baru yang menggoncang akidah menurut orang-orang barat dan mulai menyisipkan keraguan pada umat Islam dengan berbagai macam doktrin yang telah mereka pelajari dari tokoh-tokoh terkemuka di kalangan mereka.

Selain itu, kristenisasi juga menjadi agenda yang tidak luput memberikan kontribusi terhadap kajian-kajian ilmiah mereka yang mereka semua sebelum itu adalah para pemuka agama. Mereka berusaha untuk menjatuhkan reputasi Islam dalam budaya mereka terhadap umat Islam yang bertujuan memasukkan keraguan dalam keyakinan Islam dan keraguan dalam khazanah keilmuan Islam.

2. Motif Penjajahan

Setelah berakhirnya perang salib dengan kekalahan tentara salib yang secara zahir adalah perang agama tetapi hakikatnya adalah perang penjajahan, orang-orang barat tidak putus asa untuk terus berusahan menguasai negara-negara Arab, kemudian negara-negara Islam. Orientasi mereka beralih untuk mempelajari negara-negara tersebut dari segala aspeknya seperti akidah, adat, tata krama, dan kekayaan.

Semua hal tersebut bertujuan agar mereka mengetahui titik-titik sentral kekuatan negara tersebut yang kemudian mereka lemahkan dan titik-titik lemahnya kemudian menguasainya. Setelah penguasaan terhadap militer dan politik, strategi selanjutnya adalah melemahkan persatuan jasmani dan rohani kita, menyisipkan kerancuan dan keraguan dalam pemikiran kita.

Semua hal tersebut dilakukan melalui doktrin keraguan dengan keistimewaan yang terdapat dalam khazanah keilmuan kita dan hal-hal serupa berupa akidah dan nasionalisme.

3. Motif Ekonomi

Termasuk dari motif-motif yang memberikan dampak terhadap perkembangan orientalisme adalah keinginan orang-orang barat untuk melakukan transaksi dengan kita untuk memasarkan produk-produk mereka dan membeli bahan-bahan mentah kita dengan harga-harga yang sangat rendah dan mematikan perekonomian utama kita yang memiliki pabrik-pabrik yang juga berkembang pesat di berbagai negara Arab.

4. Motif Politik

Motif selanjutnya yang muncul setelah kemerdekaan negara-negara Arab Islam adalah motif politik. Setiap negara barat memiliki sekretaris (dubes) sebagai bentuk perantara yang memudahkan mereka untuk tersambung dengan para pemikir, pers, dan politisi kemudian mengenal dan bersinggungan dengan ide-ide mereka serta menyampaikan kepada mereka terkait orientasi-orientasi politik negara mereka. 

Kebanyakan hubungan atau Kerjasama yang dibangun memberikan dampak negatif yang terdahulu ketika para dubes barat menyebarkan berbagai tipu daya untuk mencerai beraikan negara-negara Arab antara satu dengan yang lainnya dan antara negara-negara Arab dan Islam. Hal ini dilakukan melalui argumentasi saran dan tawaran bantuan setelah mengamati para penguasa negara tersebut.

5. Motif Ilmu

Terkait motif ilmu (ilmiah) para orientalis, sangat sedikit ditemukan orientalis yang kajiannya terhadap Islam bersifat objektif, dalam artian tidak ditunggangi motif-motif personal tertentu. Para orientalis tersebut adalah lebih sedikit salahnya dalam memahami Islam dan khazanahnya. Hasil kajian mereka lebih dekat kepada kebenaran karena tidak ditunggangi tipu daya dan distorsi.

Penutup

Demikian terkait motif-motif utama para orientalis dalam kajian mereka terhadap ilmu ilmu ketimuran (Islam). Sebagai umat Islam, hendaknya kita bisa berpikir sedikit lebih kritis dan berhati-hati terhadap sesuatu yang hendak merusak sendi-sendi agama Islam yang nantinya bisa menyesatkan umat, terutama orang-orang awwam.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Turkey Zhafir
Sedang belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ponpes Al-Luqmaniyyah Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top