Roh dan Jasad Sebuah Puisi, Menggali Makna Puisi Lebih Dalam

Roh dan Jasad Sebuah Puisi. Puisi jalaludin ar-tumi, cinta seorang sufi. cinta dalam roh suatu puisi

Islam Santuy – Jika seseorang bertanya “apa yang dilihat dari sebuah puisi?” akankah dijawab tulisan, kupikir tidak. Atau sebuah karangan, mungkin iya. Tapi seorang yang paham akan makna estetika tak akan melihat suatu puisi dari bentuk tulisan ataupun susunan bait-bait semata. Hal yang pertama kali menjadi perhatian seorang penikmat puisi adalah makna yang terkandung dari sebuah puisi.

Apakah makna kata “cinta” hanya sekedar susunan huruf? Tentu bukan. Puisi yang indah bukan hanya sekedar susunan bait.tapi lebih dalam dari itu. Keindahannya terdapat pada makna dari susunan kata-kata yang dirangkai para penyair. Puisi adalah kata-kata yang memiliki roh dan hidup di hati para penikmatnya. Mungkin ungkapan ini agak sedikit janggal bagi orang yang awam terhadap seni puisi ini.

Layaknya manusia, bait-bait puisi terkadang menjadi teman bagi seorang yang kesepian. Tak jarang pula menjadi pelipur lara bagi hati yang terluka. Puisi juga memiliki jasad dan roh bagai manusi sempurna. Tulisanlah yang menjadi tempat menempelnya roh dari sebuah puisi yang berupa makna.

Mengkaji sebuah puisi tidaklah cukup hanya dengan menggali pada ranah jasad. Keindahannya hanya dapat ditemukan ketika seseorang meraih makna dibalik setiap kata penyusunnya.Lalu pertanyaan yang lahir setelahnya adalah “darimana dan siapa yang menciptakan roh dan jasad tersebut?”

Cinta adalah tempat berasalnya roh puisi dan jari-jari serta lisan adalah pencipta jasadnya. Dari rasa cintalah seorang penyair memulai puisisnya, dan dari jari-jarinya digambarkanlah perasaan itu. Cintanya kepada bangsa, alam, kekasih, dan lain sebagainya adalah sumber terciptanya sebuah puisi.

Puisi hanya akan menjadi angan dan imajinasi jika sekedar kumpulan makna. Dia membutuhkan sosok jasad untuk bisa menjelma menjadi seorang pangeran bagi para putri kerajaan, ataupunsosok pengemis yang renta dan kelaparan di pinggiran jalan.

kelaparan adalah burung gagak

Yang licik dan hitam

Jutaan burung-burung gagak bagi awan yang hitam”

Rendra dalam penggalan puisinya di atas menggambarkan fenomena kelaparan dan menyayat rasa cintanya kepada manusia. Tapi, ketika kita menyibukkan diri sebatas pada tulisan mungkin akan merasa asing, aneh dengan kata-kata tersebut. Oleh karenanya, dalam melihat puisi kita juga harus menangkap maknanya agar kita mendapatkan roh dari perasaan cinta dan jasadnya secara utuh. Dari puisi tersebut terpampang bagaimana seorang Rendra menggambarkan ngeri dan kejinya musibah kelaparan. Bagaikan gagak yang merupakan hewan yang kedatangannya tak diharapkan karena membawa kabar kematian bagi orang sekitarnya.

Dari pemahaman bahwa puisi terlahir dari cinta yang diungkapkan melalui untaian kata, dapat kita semua pahami bahwa rasa cinta membutuhkan sesuatu untuk bisa terungkap, dan saat itulah jari-jemari seorang pecinta merepresentasikan cintanya dalam sebuah puisi. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa seni dalam sebuah puisi  hanya sebatas untaian kata belaka. Tapi, cinta dan proses perwujudannya dalam bentuk kata-kata juga merupakan sebuah seni jika dipandang secara integral. Jika ada sebuah puisi yang tersusun tanpa cinta, hanya akan tercipta untaian kata hampa tanpa makna.

Kejujuran Cinta

“Apabila cinta memanggilmu, maka ikutlah dia

walau jalannya terjal berliku-liku,

Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah,

walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu

Dan jika dia bicara padamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu,

bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan”

Dalam puisinya tersebut, Khalil Gibran menyatakan bahwa seorang pecinta tak akan pernah mengkhianati perasaannya. Oleh karenanya, sebuah puisi yang terlahir dari hati para penyair dan sekaligus pecinta tak akan pernah berbohong, dan akan kita temukan kejujuran cinta dalam setiap untaian kata-katanya.

Puisi Cinta Para Sufi

Dalam Islam kita mengenal istilah ajaran tasawuf yang di dalamnya seorang penganut tasawuf atau disebut Salik diajarkan untuk mencondongkan diri kepada kecintaan penuh terhadap Allah dan melepaskan diri dari kekangan hawa nafsu duniawi yang biasanya menjadi perusak cinta seseorang. Oleh karenanya nafsu duniawi harus ditinggalkan demi mencapai tujuan makrifatullah atau dapat mencapai kecintaan penuh kepada Allah semata.

Seorang yang telah mencapai tujuan dari tassawuf disebut dengan sufi, tidak akan tersisa dalam hatinya kecuali kecintaannya kepada Allah. Dari rasa cinta yang dimilikinya, banyak diantara para sufi yang mewujudkan cintanya pada bait-bait puisi.

Seperti halnya puisi-puisi yang sebelumnya dibahas, syair-syair yang terlahir dari mulut para sufi juga merupakan sebuah seni. Makna dari puisi-puisi mereka terlahir dari rasa cintanya kepada Allah, dan jasadnya tercipta dari mulut serta jari-jemarinya.

Jika diperhatikan dengan seksama, puisi-puisi mereka banyak menggambarkan makna perdamaian, keindahan, toleransi dalam bersosial. Seperti syair dari seorang sufi ternama yaitu Maulana Jalaluddin Rumi dibawah ini menggambarkan bahwasannya cintalah yang mendasari kebaikan moral, persatuan, dan toleransi.

“cinta adalah lukisan orang getir menjadi manis,

sebab dasar semua cinta adalah kebajikan moral”

“seperti adam dan hawa yang melahirkan sekian banyak jenis,

cinta lahir dari sekian banyak bentuk”

Tataplah wajah cinta supaya kau mampu meraih sifat kemanusiaan.

Karena itu jangan hanya duduk menggigil.

Sebab jika demikian, mereka kan membuatmu menggigil”

Dari sini, kita dapat melihat makna yang terlahir dari cinta utuhnya kepada Allah menggambarkan sebuah kondisi sosial yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini sekarang. Perdamaian, kebaikan moral, toleransi dan persatuan sudah mulai luntur di kalangan masyarakat kita.

Selain Rumi ada satu tokoh sufi yang saya angkat. Dia adalah Ibnu Arobi. Dia dalam puisinya, menunjukkan sifat kemanusiaan dan toleransi yang sangat kental di tengah-tengah banyaknya perbedaan di dunia.

Sungguh hatiku telah menerima segala bentuk

Ia bagai padang rumput bagi sekawanan rusa

Biara bagi rahib-rahib kristen

Kuil bagi penyembah berhala, Ka’bah bagi peziarah

Hatiku adalah lembaran Taurat dan kitab Al-Qur’an

Kuanut agama cinta, jalan yang ditempuh onta-onta cinta

Cinta adalah agama dan jalan (keyakinan)-ku

Seorang sufi yang sudah mencapai cinta sejati kepada Allah, akan melihat segala hal di sekitarnya dengan cinta dan kasih sayang serta dampaknya kepada lingkungan social adalah terwujudnya persatuan dan perdamaian tanpa ada deskriminasi yang dilakukan pihak mayoritas atas kaum minoritas di Negara kita. Ibnu Arobi berpandangan bahwa manusia dan apa yang ada di alam semesta merupakan firman tuhan yang tak tertulis. Manusia dan alam ini tercipta dari firman-Nya “Kun fa Yakun”. Oleh karenanya sudah menjadi konsekwensi seharusnya seorang hamba saling mencintai seluruh uamt dan alam ini.Mencintai tuhan secara untuh berarti juga mencintai firman-firman-Nya.

Selain dalam dunia Islam, kalil Gibran seorang pujangga yang paham betul tentang cinta juga menggambarkan bahwasannya cinta bukan bermakna bersatu dalam satu kehidupan.Dalam puisinya di bawah, Gibran menggambarkan bahwa cinta sejati haruslah memberikan ruang untuk perbedaan demi berlangsungnya kehidupan sosok yang dicintai dan yang mencintai.

“berkasih-kasihanlah, namun jangan membelenggu cinta,

Biarkan cinta itu bergerak senantiasa, bagaikan air hidup,

Yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa,

Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala suka cita,

Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.

Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri,

Walau lagu yang sama sedang menggetarkan,

Berikan hatimu, namun jangan saling menguasakannya,

Sebab hanya tangan kehidupan yang akan mampu mencakupnya”

 Mencintai makhluk Tuhan yang merupakan firman-Nya yang tak tertulis juga merupakan tanda kecintaan seorang hamba pada-Nya.Mencintai bukan berarti memiliki dan menguasainya tapi juga harus memberikan ruang bagi perbedaaan yang ada.Hanya kehidupan yang digariskan tuhanlah yang mampu menguasai jiwa raga makhluk-Nya beserta segala perbedaan di dalamnya.

Dari penjabaran diatas, kita dapat memahami bagaimana seni islam dalambentuk puisi tercipta dari cinta yang terungkap dengan adanya jasad puisi yang berupa rangkain kata dan untaian bait-bait.cinta sebagai makna dan roh suatu puisi dalam islam selalu mengarahkan hati seorang pujannga sufi kepada toleransi dan perdamaian .

Cinta yang menjadi ajaran utama Tasawuf rupanya sangat tepat jika digunakan untuk dijadikan obat bagi msyarakat negri ini yang masih melihat perbedaan dengan mata kebencian. Dengan menanamkan nilai-nilai tasawuf dalam diri setiap muslim Indonesia diharapkan dapat memperkuat persatuan dan rasa tenggang rasa diantara masyarkat kita.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top