Salah Menyalahkan dalam Agama Islam, Kok Suka Banget Ya?

Salah Menyalahkan dalam Agama Islam

Islam Santuy – Males gak sih kamu ngeliat sikap saling salah menyalahkan dalam agama Islam? Ini bukan tentang antar agama lain dulu ya, ini masih dalam agama Islam itu sendiri, antar kelompok dalam internal agama Islam.

Lumrah kita ketahui, bahwasanya memang sudah banyak perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam. Ini bukan fenomena yang baru saja ada. Dari zaman sahabat pun demikian. Coba deh kamu lihat bagaimana Ali bin Abi Thalib mengutus salah satu pejabatnya untuk memberi bantahan argumen kepada pengikut Khawarij.

Memang ada hadist yang menyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, hanya satu di antara mereka yang selamat. Semua golongan mengatakan bahwa golongan merekalah yang akan selamat, dan yang lain tidak. Kelompok A mengatakan demikian, kelompok juga B mengatakan demikian.

Hal ini kemudian akan membawa seorang jatuh dalam fanatisme kelompok. Jadi ia hanya memikirkan bahwa hanya kelompoknya-lah yang benar. Maka tidak heran sangat banyak terjadi sikap saling menjatuhkan satu sama lain. Benar mungkin kalau saling menjatuhkannya dilandasi dengan argumen ilmiah. Tapi ini? Boro-boro argumen ilmiah, kadang yang dibawa adalah celaan akan penampilan, atau ibadah sekalipun kadang menjadi hinaan, ya gimana yaa.

Akar Masalah Terjadinya Sikap Salah Menyalahkan Dalam Agama Islam

Kalau kita meneropong lebih dalam, tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan mutlak 100% benar. Sebab apa? Yang mereka sampaikan adalah hasil pemaknaan suatu dalil. Bagaimana seharusnya dalil itu kita sikapi atau kita amalkan.

Coba deh bayangkan, kadang para ulama sama-sama membawa satu dalil, tapi penyampaian, tafsiran, atau usul implementasinya kadang berbeda. Contohnya bagaimana? Ya kaya dalil 73 golongan itu. Semua kelompok bawa dalil itu kok, tapi tafsiran mereka berbeda, sama-sama bilang kalau merekalah kelompok yang akan selamat. Padahal yang diklaim selamat dalam dalil tersebut hanya satu kelompok.

Seharusnya orang (apalagi yang ngotot ngebela dan suka menjatuhkan kelompok lain) itu paham kalau pertentangan yang terjadi antar kelompok itu karena adanya perbedaan penafsiran teks (maksudnya dalil Alquran dan Sunnah). 

Harusnya orang itu paham, kalau yang menjadi letak perbedaan cara beramal adalah perbedaan penafsiran. Please, wahyu itu datang kepada Rasul dan beliaulah yang paling tahu maksud Alquran, bukan para ulama. Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada ulama, mereka hanya menyampaikan hasil analisa mereka mengenai dalil Alquran dan mereka fikir inilah yang sekiranya benar. Ya memang begitu, dalam agama (apalagi masalah furu’) subjektifitas adalah suatu hal yang wajar. 

Lantas kenapa harus kita pertentangkan, kita fanatikkan, bahkan kita salahkan serta benci kepada orang yang tidak sepaham? Padahal akar dari semua itu hanya dalam batas penafsiran saja. 

Lantas Harus Bagaimana?

Proses analisa suatu dalil tidak dilakukan dengan gampang. Butuh kiranya seorang ulama menyampaikan hasil pemaknaannya setelah melakukan proses analisa yang ditetapkan. Mungkin akan berbeda hasilnya antar ulama, namun jika memang hasil pemaknaannya demikian, maka itulah yang terbaik.

Kita perlu tahu, bahwa para ulama telah melakukan proses analisa tersebut. Entah mereka melakukan sendiri atau tidak (dengan menyampaikan hasil pembacaan mereka). Itu semua harus kita hargai, bukan hanya dari satu ulama, tapi dari semua kalangan ulama.

Misal, seorang ulama dari yang bukan kelompok kita menyampaikan 10 poin mengenai agama Islam. 5 poin tidak bertentangan denganmu dan 5 lebihnya kamu anggap salah. Ambil poin-poin yang kamu anggap benar, tinggalkan yang sekiranya kamu anggap salah.

Tidak perlu kita berkoar-koar, oh ustad ini salah, oh si ini gak benar dengan nada provokasi. Atau lebih parah kita sampai mencela cara dia menampilkan diri atau cara dia beribadah sekalipun. Padahal mereka punya dalil saat melakukan hal tersebut. 

Hilangkan rasa fanatik hanya pada satu kelompok tertentu, tumbuhkan sikap toleransi. Mengafiliasikan diri adalah hal yang wajar, namun menjatuhkan kelompok lain apalagi mecelanya itu gak banget. 

Penutup

Mungkin demikian tanggapan penulis menghadapi fenomena saling salah menyalahkan dalam agama Islam. Tulisan ini bukan hanya ada sebagai tanggapan saat banyak orang (sorry) awam yang berbuat demikian. Namun terkadang kerap kita temui orang yang berilmupun masih ada yang saling salah menyalahkan dalam internal agama Islam.

Mana toleransinya? Masa iya toleransi hilang karena perbedaan penafsiran itu? Atau emang sama sekali gak ada?

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top