Sepeting Itukah Jadal Dalam Alquran?

Sepeting Itukah Jadal Dalam Alquran?

Jadal dalam Alquran dinilai sangat penting sebab berfungsi sebagai alat untuk membela dan menjelaskan ajaran Islam, mengatasi berbagai argumen yang diajukan oleh lawan-lawan Islam, serta untuk memperkuat keyakinan umat Muslim. Melalui pemahaman yang mendalam mengenai Jadal dalam Alquran, terkhususnya jenis-jenis jadal ini, kita dapat menggali hikmah, strategi, dan taktik yang digunakan dalam berdialog dan berdebat tentang agama.

Apa Itu Jadal?

Pengertian jadal, secara bahasa Jadal berasal dari bahasa Arab yakni kata Jadala Yajdulu-juduulan yang berarti memintal atau memilin. Secara terminologi, merupakan pertukaran gagasan yang dilakukan melalui persaingan untuk mengungguli lawan  (menemukan sebuah kebenaran). Pengertian ini berasal dari kata Jadaltu habl yaitu Ahkamtu fatlahu (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak yang berdebat itu mengokohkan atau menguatkan masing-masing pendapat dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dipeganginya.

Jadal merupakan jalan menemukan kebenaran pada suatu perkara yang bersifat masih dipertentangkan (belum betul-betul jelas) bagi para penjadal dari kitab suci, dengan melalui pengkajian cara (metode) Alquran beradu argumentasi kepada penentangnya. Jika sudah jelas bukti perkara yang dipertentangkan maka tidak seharusnya diperdebatkan lagi. Namun ketika hal ini terjadi, dapat meruntuhkan nilai-nilai agama bagi para penganutnya yang tetap mengadakan pertentangan atas sesuatu yang memang benar-benar sudah jelas.

Bentuk Jadal Dalam Alquran

Dikutip dari Manna Khalil al-Qatthan dalam kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an, Bentuk-bentuk jadal dalam Alquran, yakni:

1. Argumen dengan ayat kauniyah

Banyaknya penyebutan ayat-ayat kauniyah disertai perintah melakukan perenungan dan pemikiran guna sebagai dalil penetapan dasar-dasar akidah, seperti ketauhidan kepada Allah Swt. Dalam uluhiyannya dan keimanan kepada malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul-Nya dan hari akhir. Contoh ayat Qs. al-Baqarah: 21-22

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (22)

“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa (21). (Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buahbuahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui (22).”

2. Mengalahkan pendapat/argumentasi lawan

Dalam perdebatan semacam ini, terdapat beberapa jenis yakni:

Pertama, mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima akal sehat, untuk membuat lawan diam. Tujuannya, agar lawan menerima apa yang sebelumnya telah disangkal. Jadal semacam ini digunakan ketika seseorang menggunakan argumen berdasarkan penciptaan (makhluk) untuk memberi pembuktian adanya sang pencipta. Argumentasi ini didasarkan pada logika yang mengatakan jika terdapat makhluk, maka terdapat juga yang menciptakannya. Contoh ayat At-Thur: 35-43

أَمْ خُلِقُوا۟ مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ ٱلْخَٰلِقُونَ (35) أَمْ خَلَقُوا۟ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ (36) أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ ٱلْمُصَۣيْطِرُونَ (37) أَمْ لَهُمْ سُلَّمٌ يَسْتَمِعُونَ فِيهِ ۖ فَلْيَأْتِ مُسْتَمِعُهُم بِسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ (38) أَمْ لَهُ ٱلْبَنَٰتُ وَلَكُمُ ٱلْبَنُونَ (39) أَمْ تَسْـَٔلُهُمْ أَجْرًا فَهُم مِّن مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُونَ (40) أَمْ عِندَهُمُ ٱلْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ (41) أَمْ يُرِيدُونَ كَيْدًا ۖ فَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ هُمُ ٱلْمَكِيدُونَ (42) أَمْ لَهُمْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُون (43)

“Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? (35). Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan) (36). Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa? (37). Apakah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan (hal-hal yang gaib)? Hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka itu datang membawa keterangan yang nyata (38). Apakah (pantas) bagi-Nya anakanak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki? (39). Apakah engkau (Nabi Muhammad) meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang? (40). Apakah mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya. (41). Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya (42). Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (43),”

Jadal semacam ini untuk menunjukkan kebenaran, kekuatan argumen dengan mengacu pada prinsip logika dan akal sehat yang diterima oleh lawan bicara. Tujuannya, membuat lawan menyadari kebenaran atau konsistensi pada argumen. Agar terhindar dari perselisihan, menurut ImamAs-Suyuthi tidak harus menggunakan kata-kata pertanyaan. Akan tetapi, bisa dengan menyangkal untuk membuktikan suatu poin atau kebenaran.

Kedua, melontarkan pendapat/argumen yang berkaitan dengan asal mula peristiwa dan hari kebangkitan. Contoh ayat al-Thariq: 5-8

“Hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan (5). Dia diciptakan dari air (mani) yang memancar (6), yang keluar dari antara tulang sulbi (punggung) dan tulang dada (7). Sesungguhnya Dia (Allah) benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati) (8).”

Ketiga. menyangkal argumen lawan melalui pembuktian kebenaran kebalikannya, seperti bantahan terhadap pendirian orang. Contoh ayat Qs. al-An’am: 91

“Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.) (91)”

Keempat, membuat diam lawan serta mematahkan hujjahnya dengan penjelasan pendapatnya tidak masuk akal dan tidak dapat diakui. Contoh ayat Qs. al-An’am: 100:

“Mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin sekutu-sekutu bagi Allah, padahal Dia yang menciptakannya (jin-jin itu). Mereka berbohong terhadap-Nya (dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai) anak laki-laki dan anak perempuan, tanpa (dasar) pengetahuan (100).”

Kelima, menghimpun dan merinci (al-Sabr wa al-taqsim) yakni menghimpun beberapa sifat dan menerangkan bahwa bukanlah ’illah alasan hukum. Seperti firman Allah Swt. Contoh ayat Qs. al-An’am: 143

“Ada delapan hewan ternak yang berpasangan (empat pasang, yaitu) sepasang domba dan sepasang kambing. Katakanlah, “Apakah yang Dia haramkan itu dua yang jantan, dua yang betina, atau yang ada dalam kandungan kedua betinanya? Terangkanlah kepadaku berdasarkan pengetahuan jika kamu orang yang benar (143).”

Itulah beberapa jenis-jenis Jadal dalam Alquran yang dapat dipelajari, serta diapikasikan upaya menjelaskan dan membela Islam dalam konteks yang beragam dan berubah-ubah di era modern, serta memperkuat landasan pemahaman dan keyakinan dalam Islam.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top