Tafsir Sastrawi: Antara al-Kasyyaf dan al-Muharrar al-Wajiz

Tafsir Sastrawi: Antara al-Kasyyaf dan al-Muharrar al-Wajiz

Islam Santuy – Perjalanan tafsir sebagai salah satu bidang keilmuan dalam Islam cukup memberikan warna bagi para ulama yang menaruh perhatian lebih terhadapnya. Proses penafsiran yang terjadi sejak masa Nabi SAW dengan segala dinamikanya hingga abad ini cukup menjadi bukti keluasan dan kekayaan khazanah pengetahuan Islam, terlebih dalam bidang tafsir. Penafsiran yang terus berkembang tentunya memiliki karakteristik masing-masing pada masanya, mulai dari Nabi SAW, sahabat, tabiin, sampai saat ini.

Al-Kasyyaf dan Al-Muharrar Al-Wajiz

Salah satu masa yang cukup menjadi perhatian adalah paruh kedua abad kelima hijriah. Pada abad ini karya-karya tafsir terus bermunculan dengan berbagai bentuk metode dan orientasinya. Dua mufassir yang cukup terkenal dan sangat diakui oleh dunia Islam saat itu adalah Az-Zamakhsyari dan Ibnu Athiyyah dengan karyanya masing-masing al-Kasyyaf dan al-Muharrar al-Wajiz.

Dalam kitab at-Tafsir wa Rijaluh, Fadhl Ibnu Asyur menerangkan terkait biografi dan karya tafsir dari keduanya. Ibnu Asyur menjelaskan bahwa keduanya merupakan mufassir yang lahir pada paruh kedua abad kelima hijriah. Az-Zamaksyari dilahirkan pada 467 H sedangkan Ibnu Athiyyah dilahirkan pada 481 H. 

Az-Zamakhsyari sebagai salah satu perwakilan mufassir dunia Timur (Uzbekistan) dan Ibnu Athiyyah sebagai salah satu perwakilan mufasir dunia barat (Granada). Keduanya hidup sezaman dan waktu kelahiran mereka hanya berjarak empat tahun. Tahun wafat keduanya juga berjarak empat tahun.

Secara umum, metode (manhaj) penafsiran keduanya adalah sama, yakni manhaj al-ilmi al-adabi. Kesamaan metode yang ditempuh keduanya adalah implikasi dari kesamaan dalam membangun peradaban yang berlandaskan bahasa dan sastra. Meskipun begitu, terdapat beberapa perbedaan mendasar yang menjadi karakteristik masing-masing sebagai perwakilan dari golongan “muda” dan “tua”. 

Perbedaan Antara Al-Kasyyaf dan Al-Muharrar Al-Wajiz

Perbedaan tersebut diperinci menjadi tiga. Pertama, perbedaan letak geografis. Kedua, perbedaan dari segi orientasi mazhab. Ketiga, perbedaan dari segi mazhab fiqih. Perbedaan-perbedaan ini tentunya akan berdampak pada karakteristik penafsiran dari masing-masing keduanya yang meliputi perbedaan masa, suku arab, dan non-Arab.

1. Letak Geografis

Perbedaan letak geografis antara keduanya jelas berbeda. Az-Zamakhsyari berasal dari Uzbekistan sedangkan Ibnu Athiyyah berasal dari Granada. Dampak yang ditimbulkan dari perbedaan letak geografis adalah salah satunya terhadap pengambilan rujukan atau referensi yang digunakan oleh masing-masing keduanya.

Dalam hal ini, Ibnu Athiyyah juga turut merujuk kepada salah satu dari beberapa referensi yang pada dasarnya bisa dijangkau dalam al-Kassyaf. Salah satunya dan sekaligus yang dianggap paling penting adalah tafsir dari eropa barat yang itu tidak dimasukkan dalam referensi al-Kassyaf. Tafsir tersebut adalah at-Tafsir al-Mahdawi atau yang dikenal dengan at-Tafsil al-Jami’ li al-Ulum at-Tanzil.

Selain itu, referensi-referensi kitab tafsir yang lain tercakup didalam keduanya seperti tafsir az-Zujajj, tafsir Abi Jafar an-Nuhas, dan tafsir-tasfir yang berasal dari magrib yang sampai ke masyriq seperti tafsir Makki bin Abi Tholib.

2. Orientasi Mazhab Fiqh

Perbedaan ini merupakan perbedaan dalam hal acuan dalam mazhab fiqh. Az-Zamakhsyari menganut mazhab Hanafi, sedangkan Ibnu Athiyyah menganut mazhab Maliki. 

Perbedaan ini terlihat dalam tafsir keduanya dalam hal perumusan sebuah hukum yang melibatkan dua kubu, yakni antara kubu Madinah dan Irak. Perbedaan selanjutnya adalah pada mazhab atau metode ijtihad yang berangkat dari perbedaan sumber-sumber hukum yang digunakan dalam proses ijtihad.

3. Orientasi Mazhab Teologi

Perbedaan ini merupakan perbedaan yang paling memberikan dampak besar terhadap karya tafsir dari keduanya, yakni perbedaan aliran teologi. Az-Zamakhsyari menganut paham Mu’tazilah yang biasa dikenal dengan kekuatan nalarnya, sedangkan Ibu Athiyyah menganut paham asy’ariyah yang dikenal dengan keselarasannya dalam penggunaan teks dan akal.

Perbedaan ini sebenarnya sudah tampak sejak munculnya tafsir yang bersifat linguistik oleh kaum Mu’tazilah yang dianggap menyimpang dalam hal pentakwilan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat mutasyabih oleh pesaingnya, yakni kaum Asy’ariyyah. Hal ini tentunya direspon oleh Asya’riyyah dengan berbagai kritikan dan perdebatan, baik secara lisan maupun melalui tulisan.

Keteguhan dan respon yang sangat keras dari Asya’ariyyah dalam merespon karya-karya tafsir Mu’tazilah menjadikannya karya-karya yang bersifat reformatif kritik. Sejak saat itu, Asy’ariyyah menjadi counter atas Mu’tazilah melalui penyebaran keilmuan dan permusuhan mereka.

Oleh karena itu, al-Kasyyaf menjadi sebuah bentuk sikap defensive ketika berada di daerah-daerah yang terdapat perbedaan bentuk atau manhaj penafsiran antara Mu’tazilah dan Sunni. Sedangkan al-Muharrar al-Wajiz menjadi sebuah kritik yang bersifat menyerang ketika berada di daerah-daerah tersebut.

Penutup

Melalui perbedaan dan keluasaan ilmu dari kedua mufasir tersebut dapat dilihat sejauh mana pengaruh kedua tafsir tersebut pada masanya dan masa-masa setelahnya dan hingga saat ini selalu menjadi rujukan primer bagi para pengkaji tafsir, baik klasik maupun kontemporer, terlebih dalam kajian-kajian tafsir yang bersifat bahasa linguistik (adabi).

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Turkey Zhafir
Sedang belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ponpes Al-Luqmaniyyah Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top