Tragedi Karbala, Kesalahan Taktik Politik Yang Berujung Kematian

Tragedi Karbala, Kesalahan Taktik Politik Yang Berujung Kematian

Islam Santuy – Semakin mendekati tahun 2024, berita mengenai politik semakin hangat. Baru-baru ini Anies Baswedan dan Gus Muhaimin mengumumkan bahwa mereka akan maju menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Banyak yang menilai bahwa bersatunya dua pasangan ini adalah representasi dari bersatunya golongan umat muslim yang kerap digambarkan berseberangan.

Entah taktik apa yang akan digunakan oleh dua pasangan ini kedepannya, Namun kemungkinan yang hampir pasti adalah memanfaatkan suara umat muslim sebagai cara untuk menang. Kemungkinan semakin menguat jika kita melihat bahwa PKS juga masuk dalam jajaran partai pengusung pasangan AMIN (Anies-Muhaimin). Apa strategi tersebut akan berhasil?

Terlepas dari itu semua, tulisan ini tidak akan berbicara mengenai situasi politik nasional. Tulisan ini akan membahas salah satu tragedi pertumpahan darah yang terjadi karena kesalahan taktik politik. Tragedi ini dikenal dengan tragedi karbala, di mana tokoh utama dalam kisah ini adalah cucu Rasulullah, Husein bin Ali.

Husein dan Kesalahan Taktik Politiknya

Seperti biasa, sebelum kita menggali lebih dalam mengenai kesalahan taktik politik Husein, ada baiknya kita mengetahui konteks yang terjadi dulu. Jadi kesalahan taktik politik itu jelas terlihat. Dan pertanyaan kenapa Husein, seorang cucu nabi yang seharusnya punya kedalaman ilmu tapi kok bisa jatuh dalam kesalahan taktik politik bisa kita jawab. Kuy. 

Husein bin Ali Ra.

Masih ada yang belum kenal dengan Husein bin Ali? Ia adalah seorang cucu nabi dari Fathimah, dan ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib. Sama dengan nasabnya, keagungan serta keluasaan ilmu agama yang ia miliki tidak perlu kita pertanyakan lagi keistimewaannya. Hal tersebut banyak terekam dalam literatur hadist.

Namun begitu, keagungan nasab, serta keistimewaan lautan ilmu yang ia miliki tidak menjadikan ia sebagai makhluk tak bersalah. Peristiwa karbala menjadi catatan bagaimana ia telah melakukan kesalahan, terkhusus dalam taktik politik. Kesalahan ini kemudian membawa ia menemui ajalnya.

Situasi Menjelang Tragedi Karbala

Kisah dimulai saat Muawiyah bin Abi Sufyan menunjuk anaknya Yazid sebagai penerus kepemimpinan umat muslim. Tentu pada saat itu penunjukan Yazid merupakan suatu yang janggal, sebab tidak sesuai dengan tradisi para pemimpin muslim sebelumnya.

Coba kita perhatikan sikap para khalifah sebelum Muawiyah. Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Tidak ada satupun yang menunjuk anak mereka sebagai pemimpin umat selepas mereka. 

Biasanya pemimpin jatuh kepada mereka yang dianggap memiliki keunggulan lebih dari yang lain, terutama dalam pengetahuan agama. Dan sudah tentu, hal yang dilakukan oleh Muawiyah mendapat banyak tantangan sebab berseberangan dengan kebiasaan. Padahal saat itu masih banyak sahabat yang lebih unggul kapasitas keilmuannya daripada Yazid. Sebut saja Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas atau Husein bin Ali sekalipun.

Husein bin Ali Menolak Yazid

Pengangkatan Yazid sebagai pemimpin semakin terasa janggal dengan kabar yang mengatakan bahwa Yazid adalah seorang fasiq dan pemabuk. Kejanggalannya jadi double, tidak sesuai dengan kebiasaan, tidak pula memenuhi syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Setidaknya syarat pada waktu itu

Melihat realita yang demikian, Husein menolak untuk berbaiat kepada Yazid. Perintah untuk membaiat Yazid datang silih berganti kepada Husein namun tetap Husein tidak mau melakukannya. Bahkan ia menganggap bahwa Yazid adalah seorang pemimpin zhalim dan harus segera dilawan.

Dukungan Kepada Husein Berdatangan

Kabar keengganan Husein untuk membaiat Yazid menyebar bahkan sampai negeri Irak, basis pendukung Ali, ayahnya Husein. Mereka ikut menyuarakan hal serupa.

Tercatat lebih dari 500 surat berdatangan kepada Husein sebagai pernyataan akan setia kepadanya jika sewaktu-waktu Husein ingin menjatuhkan Yazid dari pucuk kekuasaan.

Hal tersebut kian memotivasi Husein untuk segera menggugat kekuasaan Yazid. Ia memiliki segala yang dibutuhkan seorang pemimpin. Keagungan nasab, keistimewaan ilmu, dan basis pendukung. Apalagi yang harus ditunggu Husein? Toh pemimpin yang akan digugatnya adalah pemimpin yang tidak memenuhi syarat.

Husein Bertolak Menuju Basis Para Pendukungnya

Husein mengutus salah seorang kerabatnya untuk memastikan kebenaran surat-surat tersebut. Dan ternyata benar, dukungan yang ia dapatkan dari surat tersebut bukanlah dukungan fiktif. Orangnya benar-benar ada, bukan manipulasi atau kecohan belaka. Akhirnya ia pergi bertolak menuju Irak setelah sebelumnya berdiam di Madinah. 

Namun banyak yang tidak setuju akan kepergiannya ini. Sahabat-sahabat terkenal semisal Abdullah bin Abbas menghadang kepergiannya ini. 

Tidak tahukah Husein bahwa penduduk Irak dahulu mengkhianati ayahnya? Mereka adalah orang yang tidak pernah konsisten dalam perkataan. Bagaimana mungkin Husein bisa percaya kepada mereka? Kira-kira demikian argumen Abdullah untuk meyakinkan Husein.

Husein menolak, ia percaya bahwa penduduk Irak tidak mungkin mengkhianatinya. Apalagi ia sudah memvalidasi kebenaran surat-surat itu. Dukungan itu bukan fiktif. Ini adalah kesempatan untuk melawan pemimpin zhalim. Jika putra Ali dan Fatimah serta cucu Rasul saja tidak memiliki tekad untuk menghadapi penguasa tiran yang tidak adil, maka siapa yang akan? Kira-kira demikian argumen Husein. Maka pergilah ia bersama 100 orang kerabatnya. 

Sementara Itu di Irak..

Memang benar apa yang dikabarkan oleh kerabat Husein, bahwa dukungan yang datang kepada Husein bukanlah dukungan fiktif. Pendukung Husein sebenarnya banyak bahkan sampai 4000 orang, dan semua siap perang melawan pasukan Yazid.

Namun sayang, karakter mereka yang sebelumnya digambarkan oleh Abdullah bin Abbas benar adanya. Mereka adalah orang yang tidak konsisten dalam perkataan. Bisa saja sekarang bilang pilih calon A, kalau dapat amplop dari calon B, calon A akan mereka tinggalkan. 

Penduduk Irak (sekali lagi) Berkhianat

Karakter ini yang dimanfaatkan oleh para bawahan Yazid yang berada di Kuffah. Mereka mempropagandakan sebuah isu bahwa telah datang tentara Yazid dari Damaskus (ibukota negara, tempat Yazid bertahta). Pasukan tersebut sudah pasti akan mengalahkan Husein dan para pengikutnya. Barangsiapa yang masih saja ikut mendukung Husein, maka negara tidak akan memberinya bantuan lagi (dana BLT lah kira-kira). Kalau mereka gugur, keluarganya yang akan terkena imbas.

Siapa yang ingin kehilangan bantuan? Siapa yang mau dana BLT-nya hangus sia-sia? Pasukan Yazid juga sudah bertolak dari Damaskus, apalagi yang membuat mereka bertahan dengan dukungan kepada Husein? Hanya kematian dan kemiskinan yang menunggu mereka. Mereka sekali lagi berkhianat.

Husein Tetap Melanjutkan Perjalanan

Pengkhianatan kaum Irak terdengar sampai telinga Husein yang sedang berjalan menuju kediaman mereka. Ia lantas beridiskusi dengan kerabatnya, apa langkah selanjutnya yang harus mereka ambil. Pulangkah atau tetap melangsungkan perjalanan. Setelah berdiskusi, mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan (Aduh, aku yang tulispun greget gaess). 

Memang demikianlah karakter orang dulu, terkhusus Arab yang terkenal akan hobi perangnya. Jika mereka telah mengikrarkan untuk perang, maka secara otomatis rumah bukanlah tempat yang boleh mereka tuju, kecuali setelah mendapat kemenangan. 

Gaes, ini artikelnya terlalu panjang. Mungkin lebih baik kita bagi dua aja ya. Baca lanjutannya di sini.

Jangan lupa share ke temanmu juga yaa...
Naufa Izzul Ummam
Sarjana agama, otw lanjut. Okelah ya kalau nulis soal keagamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top